
SM Cetak - Semarang & Sekitarnya
12 Januari 2010
389 Facebookers Tolak Pembongkaran
TAMANSARI - Penolakan terhadap rencana pembongkaran bangunan bekas Markas Kodim 0714/ Salatiga terus menguat. Aksi itu dilakukan masyarakat melalui situs jejaring sosial di dunia maya Facebook. Setidaknya 389 pengguna facebook bergabung dalam grub Kami Menolak Pembongkaran Bangunan Belanda Eks Kodim Salatiga. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Anggotanya tidak hanya warga Salatiga melainkan juga pendatang yang tinggal di kota tersebut.
Beberapa di antaranya menyayangkan rencana pembongkaran bangunan yang masuk dalam inventarisasi benda cagar budaya (BCB) Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Salatiga itu.
Katharina Daisy Nugraha, salah satu anggota grup misalnya, berharap bangunan tua di Salatiga tidak dibongkar. ”Pak Wali Kota, mohon bangunan tua di Salatiga jangan pada dibongkar! Anak saya nanti kalau mau melihat-lihat sejarah dan gedung-gedung tua ke mana, kalau pas pulang kampung. Di Swiss, gedung-gedung tua malah menjadi aset yang menjanjikan untuk pariwisata yang mahal. Di Jakarta, kota tuanya saja malah sekarang dilindungi dan dibangun kembali, bukan di bongkar. Mohon aspirasi warga Kota Salatiga dipertimbangkan,” tulisnya wanita yang tinggal di Jakarta itu.
Asrie Ambarwanie, wanita Salatiga yang kini tinggal di Watampone, Sulawesi Selatan juga menulis,’’Bila modernisasi boleh saja, tetapi apakah harus dengan melenyapkan bangunan bersejarah’’.
Lebih Indah
Menurutnya, Salatiga akan lebih indah dengan bangunan-bangunan bersejarah yang terawat daripada mal-mal yang megah dan mewah. Simak juga komentar Astutee Muaniesz, anggota grup dari Jambi. ”Hmmm...buat apa sih banyak mal di Salatiga. Aku kangen Salatiga yang sejuk, asri dan kunonya. Kalau semua yang klasik-klasik dibongkar jadi mal, hilang dong keaslian Salatiga ku tercinta.’’
Grup Kami Menolak Pembongkaran Bangunan Belanda Eks Kodim Salatiga didirikan oleh Agus Sulistiyo dengan beberapa pengurus, yakni Teguh Aji, Yakub Adi Krisanto, Kang Syukron dan Lare Jawi. Kang Syukron atau Muhammad Syukron pengurus grup itu mengatakan, pembentukan grub itu sebagai upaya untuk ikut melestarikan bangunan kuno di Salatiga. ”Kami mendirikan grup ini pada Desember lalu. Kini, sudah memiliki 389 anggota,” terangnya.
Dia mengatakan, kalau bisa BCB itu tidak dikelola oleh pribadi, tetapi pemerintah harus ikut memikirkan pelestariannya. Mereka juga berharap Pemkot Salatiga peduli memberikan bantuan, berupa anggaran untuk perawatan dan pelestarian bangunan kuno itu.
Syukron mengatakan, untuk menindaklanjuti gagasan itu pihaknya melakukan pertemuan dengan anggota grup di Kampung Percik, pada Senin (11/1). Kopi darat dan curah gagasan ini menjadi wahana untuk mendiskusikan permasalahan tersebut. (H53,H2-90)
Berita Utama |
Semarang & Sekitarnya |
Lintas Muria |
Lintas Pantura |
Lintas Solo |
Lintas Kedu-Banyumas |
Yogyakarta |
Internasional |
Ekonomi & Bisnis |
Wacana |
Olahraga |
Hiburan & Seni |
Hukum |
Perempuan |
Ragam |
Pendidikan |
Kesehatan |
Teknologi |
Kampus |
Home |
News |
Entertainmen |
Gaya |
Kejawen |
Layar |
Lelaki |
Sehat |
Sport |
Wanita |
SMCetak
Download BlackBerry Launcher ©2009 suaramerdeka.com