Logo
blackberry

Home

SM Cetak - Suara Kedu

14 Juni 2012
Pembuat Jamu ''Ibu Hanoum''

Cacat Bukan Halangan untuk Berkarya


PEREMPUAN yang satu ini memiliki aktivitas luar biasa. Beberapa tahun lalu, ia sering terlihat melintas di jalan utama di Yogyakarta, dari rumah menuju tempat kerjanya di Pojok Beteng Wetan.  Panas dan hujan tak ia hiraukan. Yang ada dalam benaknya, bekerja untuk menghidupi keluarga, adik-adik, dan saudara-saudaranya jumlahnya puluhan.
Lantas apa istimewanya perempuan bernama lengkap Lidwina Trifonda Latifah Hanoum Saisars itu? Ia bukanlah seperti perempuan biasa, kedua kakinya lumpuh sejak kecil. Ia hidup dengan bantuan kruk dan kursi roda. Pada usia belasan tahun kedua orang tuanya meninggal. Otomatis dialah yang harus menghidupi keluarga.

Lalu, Fonda--panggilan akrabnya--belajar menjahit, membuat jamu tradisional. Hasilnya bukan hanya untuk adik kandung tapi juga saudara-saudara yang lain. ''Kahanan, kepepet yang membuat saya harus bekerja keras membanting tulang. Ya, karena tanggung jawab saya sebagai anak pertama dari empat bersaudara. Orang tua meninggal ketika saya kecil, sebagai anak paling besar harus bisa ngurus adik-adiknya,'' ungkap Fonda menuturkan kisah hidupnya.

Sekolah pun tak sempat selesai. Fonda hanya lulus SD dan harus mencari pekerjaan membiayai adik-adiknya. Perempuan lahir 57 tahun lalu itu kemudian belajar menjahit pakaian dan menerima pesanan teman-teman serta tetangga. Siang malam tanpa kenal lelah, ia mengerjakan pesanan. Bagi orang normal tentu tak masalah tapi buatnya tentu harus keluar tenaga eksta. Tapi itu tak pernah ia rasakan.

Mandiri

Selain menjahit, Fonda juga meracik jamu tradisional. Ilmu meramu tanaman menjadi obat tradisional sebenarnya ada sejak dulu, warisan kakek dan neneknya. Pengetahuan tentang jamu bertambah setelah ia belajar dari teman-temannya, dan membaca buku tanaman obat.

Jamu ramuannya semula sebatas tetangga dan saudara. Lama-lama banyak yang minta dan ia lantas membuka usaha sendiri di rumah. Ia belanja sendiri, mengolah sendiri, kadang-kadang dibantu kerabat. Lalu bagaimana ketika belanja ke pasar? Setelah usahanya maju, ia bisa membeli mobil bekas untuk sarana angkutan belanja atau mengantar anak asuhnya.

Menyetir sendiri? Ya! Meskipun kedua kakinya lumpuh, Fonda mampu memegang kemudi. Mobilnya dimodifikasi supaya bisa digerakkan hanya dengan tangan, termasuk pedal gas, rem, kopling. Semua dikendalikan dari atas atau kedua tangan. Banyak yang tak percaya ia bisa menyetir.
Semua bahan dasar jamu yang diberi label minuman tradisional instan ''Ibu Hanoum'' diperoleh di pasar. Anak asuhnya, Guido Nova Budi Kusuma ikut membantu. Proses pembuatan mereka lakukan di rumah, Maguwoharjo, Sleman, DIY. Semua masih serba tradisional mulai dari mencuci, mengeringkan, memotong, memarut, membungkus, dengan peralatan sederhana.

''Meskipun diramu secara tradisional dan sederhana tapi kami jamin kualitasnya karena bahan-bahannya kualitas paling bagus dan gulanya asli bukan pemanis,'' tandas Fonda yang lincah menggunakan kursi roda ke sana-sini mengambil ramuan yang sudah jadi dan membungkusnya.(Agung PW-52)


Berita Utama | Semarang Metro | Solo Metro | Suara Pantura | Suara Muria | Suara Banyumas | Suara Kedu | Internasional | Ekonomi & Bisnis | Wacana | Olahraga | Selebrita | Bincang-Bincang | Pendidikan | Kesehatan | Teknologi | Kampus | Gerbang | Hukum | Ekspresi Suara Remaja | Perempuan | Ragam |
Android

Home | News | SMCetak | Selebrita | Otomotif | Olahraga | Wanita | Lelaki | Sehat | Kuliner | Gaya | Kejawen | Layar

Download BlackBerry Launcher

 ©2014 suaramerdeka.com