image

Foto: Istimewa

22 Desember 2017 | 22:58 WIB | Kejawen

Ajian Jaran Goyang, Bikin Mabuk Kepayang?

Orang Jawa punya keyakinan khusus tentang mantra. Konon, ketika seseorang mempercayai rangkaian kata-kata tertentu sebagai sarana tercapainya suatu keinginan, bisa dikatakan rapalan itu berubah menjadi mantra. Mantra sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti(1) perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya), (2) susunan kata berunsur puisi (seperti rima, irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib.

Dari sekian mantra dan ajian yang mahsyur di Tanah Jawa, satu di antaranya yang jadi perhatian karena meledak lewat lagu dangdut adalah Jaran Goyang. Tapi tahukah Anda, jika Jaran Goyang bukan mantra biasa?

Ajian Jarang Goyang diyakini ampuh menaklukkan dan memikat hati wanita. Konon ajian ini diciptakan Ki Buyut Mangun Tapa, seorang spiritualis yang banyak menghasilkan japa mantra termasuk ilmu pelet. Mantra-mantra yang menguak rahasia ilmu percintaan itu ia tuliskan dalam kitab "Mantra Asmara".

Sama seperti lelaku lainnya, pengguna ajian Jaran Goyang juga harus menjalani ritual tertentu. Seperti puasa mutih ngepel selama tujuh hari sampai membaca mantra Jaran Goyang pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Misalnya 11 kali saat tengah malam, 21 kali saat fajar, dan 41 kali saat matahari tenggelam. Ada juga yang menulis 111 kali saat tengah malam, 33 kali saat fajar dan 44 kali saat senja. Konon, saat merapalnya, pelaku ritual harus memandang foto atau membayangkan wajah laki-laki atau perempuan yang jadi targetnya.

Lalu saat berbuka puasa tiba, pelaku ajian ini cuma diperbolehkan makan tiga kepal nasi serta satu gelas air putih. Sepanjang berpuasa, pelaku diminta menjauhi pembicaraan yang tidak perlu, serta tidak mendengar dan melihat hal yang tak baik. 

Uniknya, Jaran Goyang bukan hanya ditujukan untuk percintaan. Bagi calon kepala desa atau kepala daerah yang ingin memenangkan suara, konon ajian ini bisa digunakan. Namun inti dari Jaran Goyang memang bertujuan untuk menaklukkan hati orang yang dicintai sampai mengikatnya agar tak bisa "main belakang".

Bagaimanapun setiap lelaku punya hubungan dengan hal-hal supranatural perlu dikaji manfaat dan mudharatnya. Lelaku yang dikerjakan untuk mencari pesugihan, aji-aji, gendam, jimat, pusaka, adalah lelaku yang tidak baik karena dianggap melakukan persekutuan (kekarangan) dengan bangsa gaib. Pupuh Pangkur Wedhatama pada 9 menulis,

“Kekerane ngelmu karang, kekarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning daging kulup, yen kapengok pancabaya, ubayane mbalenjani”

(Pengaruh atau andalan ngelmu karang itu berteman atau menadakan perjanjian (minta pertolongan) kepada bangsa gaib. Yang seperti itu ibaratnya hanya bedak yang tidak masuk ke jiwa raga. Tempatnya masih di luar daging. Ketika digunakan untuk menghadapi bahaya, biasanya malah jadi hambar, tidak berdaya guna)

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )