image

USAI PRODUKSI: Ratu Cimol Banyumas beserta sejumlah karyawannya usai produksi cimol di kediamannya di Lesmana, Ajibarang. (suaramerdeka.com / Susanto)

30 Desember 2017 | 07:50 WIB | Liputan Khusus

Ketika Para Juara Bersinergi untuk Berbagi

BERJEJARINGdiri untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat. Kesadaran dan usaha untuk berbagi dengan masyarakat itu juga dirintis para pemuda pelopor provinsi dan nasional asal Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap. Mereka antara lain adalah Resika Caesaria, Ahmad Sobirin, Lukman Hakim dan Rizki Rahmawan.

"Dengan berjejaring dan bersinergi kami untuk menginspirasi, memotivasi, berbagi dan belajar bersama untuk mandiri. Makanya kami berharap jejaring ini nantinya bisa semakin bekerja sosial kepada masyarakat khususnya para pemuda," ujar Resika Caesaria (25), Ratu Cimol Banyumas asal Desa Lesmana, Kecamatan Ajibarang.

Resika yang baru saja didapuk sebagai pemuda pelopor tingkat Jawa Tengah ini saat Peringatan Sumpah Pemuda Oktober lalu menyadari pentingnya kerjasama dan sinergi. Ia berharap dengan berjejaring ini, maka gerakan riil pemberdayaan masyarakat akan semakin terwujud. Meski demikian, pihaknyapun akan berjejaring dengan berbagai pihak lain yang terkait.

"Dengan satu visi misi untuk kemanusiaan dan kesejahteraan bersama masyarakat, kami yakin hal ini bisa diwujudkan. Makanya dukungan dari berbagai pihak sangat kami butuhkan," ujar perempuan yang juga menerima penghargaan Satu Indonesia dari Astra Indonesia beberapa waktu lalu.

Bagi perempuan yang sering berkeliling mengisi seminar kewirausahaan antar kampus, penghargaan dari berbagai pihak itu adalah apresiasi sekaligus motivasi. Bahkan yang lebih penting lagi, penghargaan menjadikan dirinya merasa harus lebih tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitarnya. Makanya meski telah memiliki 90 mitra usaha bisnis cimol dan omset sekitar 90 juta per bulan, namun ia terus berinovasi dan belajar mengembangkan diri dan usahanya.

"Saya niatkan bertransaksi dengan Allah. Makanya saya tidak ragu memberikan kesempatan berusaha tanpa modal kepada seseorang yang berniat menjadi mitra kami. Setiap mitra, kami berikan gerobak, cimol dan sampai subsidi. Jadi total modal awal yang kita berikan adalah Rp 4 juta," ujar pengurus Komunitas Tangan di Atas Purwokerto, komunitas sosial yang beranggotakan 300 volunteer pengusaha muda.

Pasang Surut

Tak hanya Chika, Ahmad Sobirin (30) yang pernah mendapatkan predikat pemuda pelopor Jawa Tengah, Nasional hingga penghargaan Satu Indonesia dari Astra juga tak berhenti berinovasi. Pasang surut tata niaga gula kristal di tingkat nasional dan internasional dihadapinya bersama dengan puluhan petani para penderes dalam kelompok Manggar Jaya, Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen yang dibentuk sejak tahun 2012 silam.

"Inovasi dan berjejaring dengan berbagai pihak terus kami laksanakan agar kelompok usaha ini terus terjaga keberlangsungannya. Tak hanya itu, diversifikasi produk gula kristal juga telah kami lakukan hingga pemasaran dengan memanfaatkan pasar online," ujar pria asal Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen ini.

Baginya prestasi juga menjadi motivasi untuk berbagi. Makanya di tengah kesibukannya mengembangkan usaha gula kristal bersama petani, ia sering menjadi pembicara hingga pendamping para petani gula di desa lain. Menurutnya hingga saat ini permasalahan kesejahteraan petani gula kelapa memang masih menjadi isu besar. Tanpa pemberdayaan ekonomi, dipastikan petani gula maka akan tetap menderita, miskin dan terbelakang.

"Makanya pemberdayaan ekonomi melalui peningkatan pengetahuan, koperasi hingga jejaring pemasaran gula harus dilaksanakan. Selain itu di tengah tingginya risiko pekerjaan penderes gula kelapa, maka perlu diupayakan jaminan kesehatan, hari tua, hingga kecelakaan bagi penderes secara mandiri di lingkungan kelompok," ujar Sobirin yang telah menjalin kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk kepesertaan jaminan hari tua bagi pekerja mandiri.

(Susanto /SMNetwork /CN26 )

NEWS TERKINI