image

TERGOLEK LEMAS: Sri Wahyuni (31), warga Desa Gemulak Kecamatan Sayung, Demak didiagnosa menderita kanker usus, tergolek lemas di RSUP Dr Kariadi, Semarang, Selasa (9/1). (Foto: suaramerdeka.com/Hartatik)

09 Januari 2018 | 20:00 WIB | Liputan Khusus

Butuh Uluran Tangan, Tiga Tahun Sri Melawan Kanker Usus

BOLAK-balikdirawat di ruangan serba putih, dengan jarum infus menancap di tangan tak membuat Sri Wahyuni (31) menyerah. Warga Desa Gemulak Kecamatan Sayung, Demak ini didiagnosa menderita kanker usus.
 
Kini, istri Zaenal Arifin (32) tersebut tergolek lemas di ruangan Parkit RSUP Dr Kariadi, Semarang. Lebih dari tiga tahun, ibu satu anak ini berjuang melawan sakit yang telah menggerogoti tubuhnya. Berat badan turun drastis, bahkan terlihat tinggal tulang dan  kulit. Zaenal mengatakan, istrinya bekerja sebagai buruh pabrik garmen sebelum sakit menggerogoti tubuhnya. Ia sendiri hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Segala upaya demi kesembuhan sang istri tercinta pun telah dilakukan.
 
“Tanah, satu-satunya simpanan juga sudah dijual. Apalagi tabungan sudah ludes semua,” kata Zaenal sambil menyeka air mata, Selasa (9/1).
 
Bahkan, lanjutnya, rumah yang mereka tinggali sehari-hari, rencananya akan dikontrakkan untuk biaya pengobatan Sri. Meski terdaftar sebagai peserta JKN-KIS mandiri, tapi ternyata tidak semua biaya pengobatan tersebut dibantu pemerintah. Zaenal memisalkan perawatan selama sepekan terakhir ini yang mengharuskan istrinya “naik kelas”, lantaran ruangan kelas II sesuai plafon pembiayaan JKN dinyatakan sudah penuh. Bapak Niken Ayu (9) ini hanya bisa pasrah, sembari tak berhenti memanjatkan doa untuk kesembuhan istri tercinta.
 
“Saya sudah tidak bisa fokus bekerja, karena harus merawat istri di rumah sakit,” imbuhnya.
 
D itengah perjuangan melawan ganasnya kanker, Sri pun masih menyelipkan sebuah doa yakni ingin mendampingi anak semata wayang yang kini sedang duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Semangat itu ditunjukkan tatkala dirinya menjalani kemoterapi hingga lebih dari 15 kali, dalam kurun waktu tiga tahun.
 
Sekalipun harta dan simpanan yang ditabung bersama suami selama bertahun-tahun itu habis, Sri tak pernah gentar melawan sel-sel kanker demi sembuh. Tekad ingin sembuh itu pun menggerakkan Komunitas Omah Harapan Demak yang digawangi Haryanto untuk mencarikan donasi.
 
“Kami takjub dengan semangat Mba Sri yang begitu besar untuk sembuh. Apalagi suaminya juga tidak putus asa mengikhtiarkan kesembuhan istrinya,” ungkapnya. Lebih lanjut, Haryanto mengatakan, para donatur yang tergerak untuk memberikan donasi bisa mendatangi langsung rumah sakit atau lewat media sosial fesbuk @kohdemak. Sejauh ini donasi yang sudah terkumpul baru Rp 1,8 juta.

(Hartatik /SMNetwork /CN41 )