image

Sejumlah warga dibantu personel TNI dan kepolisian menutup sementara tanggul jaringan irigasi yang jebol hingga banjir menerjang sebuah rumah di Kampung Kasiran Kelurahan Mlipak Kecamatan Wonosobo, Wonosobo, baru-baru ini. (Foto suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

12 Januari 2018 | 22:46 WIB | Suara Kedu

Kerugian Meterial Dampak Bencana Rp 49 Miliar

  • Hanya Bulan Desember 2017 di Wonosobo

WONOSOBO, suaramerdeka.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo mencatat, total kerugian dampak bencana alam di Kabupaten Wonosobo khusus sepanjang bulan Desember 2017 mencapai Rp 49 miliar. Berbagai kerusakan terjadi pada sejumlah infrastruktur jalan, jembatan, serderan, sarana irigasi, hunian masyarakat dan terganggunya perekonomian warga, imbas bencana tanah longsor, banjir bandang, angin puting beliung dan gempa bumi.

Kepala Pelaksana BPBD Wonosobo, Prayitno menyebutkan, pihaknya masih melakukan perekapan data kejadian bencana dan kerugian imbas bencana sepanjang 2017. "Namun catatan kami pada Desember saja, kerugian material dampak bencana alam untuk infrastruktur jalan, jembatan dan serderan total mencapai Rp 33 miliar. Untuk hunian yang terdampak bencana di lima kecamatan ditaksir mencapai Rp 11 miliar," ungkapnya kepada Suara Merdeka di usai melakukan Apel Kedaruratan Bencana, kemarin.

Dampak sejumlah bencana alam yang menimpa wilayah Kabupaten Wonosobo, juga berpengaruh besar terhadap terganggungnya kegiatan ekonomi produktif di kota dingin tersebut. Pihaknya mencatat, kerugian material imbas bencana alam pada sektor ekonomi produktif mencapai Rp 5 miliar. "Itu disamping infrastruktur-infrastruktur pada capaian kerentanan yang terdapat di Desa Ngasinan Kecamatan Kaliwiro, yakni jalan dan jembatan dengan kerugian mencapai Rp 6 miliar," beber dia.

Sudah beberapa tahun terakhir, tanah di desa tersebut mengalami longsor cukup parah, yang menyebabkan permukiman penduduk di Dusun Monggor dan Dusun Serang terancam. Akses jalan maupun jembatan di wilayah desa juga mengalami kerusakan sudah cukup parah, namun hingga saat ini belum tertangani. "Kami terus memberikan perhatian ketat untuk wilayah itu, karena tanah masih sangat labil dan rawan longsor," tutur dia.

Lebih lanjut Prayitno menjelaskan, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan akan terjadi di Januari sampai Februari mendatang. Intensitas hujan diprediksi cukup tinggi, lebat dan dengan durasi yang cukup lama. "Curah hujan berkisar 400-500 milimeter per detik. Kondisi ini menjadi ancaman yang serius yang perlu diwaspadai bersama. Dari itu apel kesiapsiagaan banjir, longsor dan angin puting beliung dipandang penting untuk dilakukan," terangnya.

Untuk kebutuhan dua bulan ke depan di puncak musim, BPBD Wonosobo telah mendapat bantuan dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebesar Rp 668.800.000. Selain itu, terdapat bantuan sebesar Rp 250 juta untuk peristiwa darurat bencana di wilayah Kecamatan Wadaslintang dan Kecamatan Kalibawang yang terjadi 2017. Sementara itu, terdapat pula bantuan dana dari Gubernur Jawa Tengah mencapai Rp 70 juta untuk tujuh keluarga yang terdampak longsor pada 2017.

Pada 2018 ini, direncanakan akan kembali mendapatkan bantuan dari Gubernur Jawa Tengah untuk 18 keluarga terpampak bencana. Prayitno juga menjelaskan, dana siap pakai Rp 668.800.000 yang diberikan pemerintah pusat, akan dialokasikan untuk kebutuhan Pos Aju Kesiapsiagaan Bencana masing-masing kecamatan, pembelian logistik karung, peralatan dan atribut untuk relawan. "Dana itu untuk kebutuhan dua bulan di puncak musim hujan ini," ungkap dia. 

(M Abdul Rohman /SMNetwork /CN19 )