image

Foto: Istimewa

13 Januari 2018 | 06:24 WIB | Ekonomi dan Bisnis

Pacu Pertumbuhan Industri, Peluang Indonesia Masih Sangat Terbuka

JAKARTA, suaramerdeka.com- Duta Investasi RI untuk Jepang Rachmat Gobel menuturkan, peluang Indonesia untuk memacu pertumbuhan industri masih sangat terbuka, termasuk untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi ekonomi sampai tujuh hingga delapan persen.

"Tantangan dan hambatannya memang banyak (untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi-red). Tapi, peluang yang tersedia besar, tinggal kita mau tidak memanfaatkannya. Kekayaan sumber daya alam (SDA) dan jumlah penduduk atau pasar yang besar merupakan dua hal yang menjadi kekuatan Indonesia,"ujar Rachmat Gobel.

Menurut Rachmat Gobel, berdasarkan pengalamannya sebagai menteri perdagangan, dia  melihat masih banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian nasional. Antara lain dengan menyiapkan UKM dan UMKM memanfaatkan peluang pasar dalam negeri yang besar maupun peluang pasar ekspor.

Rachmat mengatakan kebijakan pemerintah untuk memacu pembangunan infrastruktur mulai dari pelabuhan, bandara, listrik, pariwisata hingga jalan tol, bisa meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia. "Diskusi kita hari ini adalah bagian dari upaya kita untuk sama-sama memikirkan bagaimana strategi kita  memanfaatkan pembangunan infrastruktur untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi,"katanya.

Ketua Umum Gaikindo Johanes Nangoi menyebutkan, pengembangan industri menengah kecil memang sangat dibutuhkan untuk mengisi kekosongan pasokan komponen. Di sektor otomotif, katanya, jumlah komponen mobil sampai 10.000 item yang diproduksi oleh pelaku pelaku industri tier 1 dan tier 5.

“Ini perlu diisi oleh industri menengah kecil dalam negeri, dan saat ini yang sangat dibutuhkan adalah pengembangan tier 4 dan tier 5 agar industri otomotif nasional mempunyai daya saing yang kuat seperti Thailand,” katanya.

Tidak berbeda jauh dengan Nangoi, Heru Santoso dari Gabungan Elektronika menyebutkan, beberapa pelaku industri di sektor ini sudah mengembangkan model kerjasama dengan pelaku industri kecil menengah. Namun karena masih terbatas pada insiatif perusahaan, perjalanannya belum begitu pesat.

“Dengan berbagai kendala, pelaku IKM membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk bisa mencapai standard produksi yang bisa memenuhi standar. Ini yang perlu ditingkatkan melalui kebijakan pemerintah agar proses bisa lebih cepat dan cakupan kerja samanya bisa diperluas,” katanya.

(Budi Nugraha /SMNetwork /CN26 )

NEWS TERKINI