image

Foto: istimewa

17 April 2018 | 08:30 WIB | Ekonomi dan Bisnis

Waspadai Turunnya Produksi Minyak Suriah

JAKARTA, suaramerdeka.com- Serangan Amerika Serikat ke Suriah harus diwaspadai dampaknya terhadap perekonomian. Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) mengingatkan, pemerintah perlu terus mewaspadai dampak serangan Amerika Serikat ke Suriah terhadap produksi minyak negara tersebut.

Menurutnya, meski produksi minyak Suriah kecil dan tidak cukup signifikan kontribusinya terhadap pasokan minyak global, namun serangan tersebut berpeluang besar mengganggu subsidi pemerintah. “Produksi minyak Suriah terus menurun tapi dampaknya besar sebab melibatkan negara-negara penentu harga minyak dunia. Ini yang kita wajib waspadai bagi perekonomian domestik dan utamanya subsidi,” ujar Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia di Jakarta, Senin (16/4).

Bahlil mengatakan, Suriah bukan pemain utama minyak dunia. Bahkan diera kejayaannya tahun  2000-an, produksi minyak Suriah hanya sekitar 520 ribu barel per hari, atau setara 0,6 persen produksi minyak dunia.  Hal yang sama dengan produksi gas hanya sekitar 5,5 miliar meter kubik per tahun pada 2010 dan saat ini terus menurun.

Meski demikian, dampak konflik Suriah tak bisa dipandang enteng. Pasalnya, konflik di negara tersebut telah melibatkan negara-negara besar dan negara-negara pengekspor minyak utama dunia.  Sejalan dengan pernyataan Bahlil, harga minyak mentah dunia melonjak 3% pada perdagangan akhir pekan kemarin, usai Amerika Serikat melepas 59 rudal Tomahawk ke pangkalan udara pemerintah Suriah.

Sejumlah pihak khawatir serangan AS melebar ke negara-negara kaya minyak di Teluk.  Harga minyak mentah berjangka Brent International ditutup naik 35 sen menjadi 55,24 dolar AS per barel. Brent mencapai sesi tinggi sebesar 56,08 dolar AS per barel tidak lama setelah serangan rudal AS diumumkan. Untuk pekan ini, Brent telah naik 4,4%. Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) melonjak 54 sen menjadi 52,24 dolar AS per barel, dan sempat menyentuh angka 52,94 dolar AS per barel usai serangan rudal Tomahawk.

Di Indonesia, harga minyak Indonesia (Indonesian crude price/ICP) sempat naik pada Januari 2018 yang mencapai level lebih dari 60 dolar AS per barel. Harga tersebut jauh lebih tinggi dari asumsi harga ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang sebesar 48 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak tidak selamanya negatif terhadap  APBN sebab penerimaan negara dari pajak dan PNBP dari sektor minyak dan gas secara umum akan meningkat.

“Namun, pemerintah perlu waspadai pos belanja negara, berpotensi menaikkan  subsidi bahan bakar minyak (BBM), elpiji 3 kilogram, dan serta listrik. Apalagi listrik kita masih banyak menyerap energi fosil,” ujar Bahlil sembari menambahkan Pertamina dan PLN harus waspada dan kedua BUMN semestinya mempersiapkan protocol of crisis bila sewaktu-waktu harga minyak terus melonjak.

(Kartika Runiasari /SMNetwork /CN26 )

NEWS TERKINI