image
17 Desember 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Merayakan Perbedaan dengan Pentas Budaya

KEBERAGAMANdi Indonesia sudah selayaknya dirayakan, bukan diperdebatkan. Perayaannya pun bisa dilakukan dengan bermacam cara. Salah satunya dengan pertunjukan seni dan budaya.

Berlandaskan itu mahasiswa angkatan 2015 Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya FIB Universitas Diponegoro menyelenggarakan Arodes “Harmoni Budaya Semarang”. Sesuai namanya, kegiatan yang berlangsung Sabtu (2/11) malam di Balai Kelurahan Sumurboto, Tembalang, itu mengangkat keragaman yang ada di Semarang. “Ada berbagai etnis yang mendiami Semarang, antara lain Jawa, Arab, dan China.

Yang unik, perbedaan etnis itu tidak menghalangi warga Semarang untuk hidup berdampingan layaknya saudara. Inilah alasan kami menamai kegiatan ini ‘Arodes’, yang dalam bahasa Jawa artinya saudara,” terang ketua Arodes Zulfikar Lintang Nuswantoro dalam sambutannya.

Arodes dibuka pukul 19.30 WIB dengan penampilan sinden Jawa, Asti Umi Wijaya. Berkebaya orens lengkap dengan sanggul, mahasiswa Undip itu mengawali aksinya dengan melantunkan langgam Jawa. Sekitar empat menit setelahnya, Asti mulai menyanyikan lagu yang kini tengah populer milik penyanyi dangdut Via Vallen, Ditinggal Rabi. Asti tampak menikmati nyanyian. Sesekali ia menggoyangkan pinggul.

Penonton, yang sedari awal duduk lesehan, terdengar ramai bersiul. Usai itu, Asti mengkondisikan suasana jadi lebih kalem. Ia lantas menyuguhkan penampilan keduanya, mengalunkan langgam klasik berjudul Nyidam Sari.

Di balik kefasihannya bernyanyi Jawa, Asti mengaku tak punya persiapan khusus untuk mengisi acara Arodes. “Saya bisa menyanyi karena sering dengar gamelan-gamelan Jawa dari mbah kakung. Karena terbiasa akhirnya dalam keseharian sering menyanyikan lagu Jawa,” tuturnya.

Dari budaya Jawa, pentas beralih ke budaya Arab. Kali ini empat mahasiswi Sastra Indonesia 2015 menyuguhkan Tari Zapin. Sebelum 1960-an, Zapin hanya ditarikan laki-laki, namun kini perempuan atau campuran laki-laki dan perempuan bisa menarikan tari tradisional tersebut. Berbusana serba hitam-toska, keempat penari itu kompak berjoget dan berputar khas Tari Zapin. Ada dua lagu yang bergantian mengiringi penampilan mereka yakni “Zapin Melay”u dan “Kun Anta”.

Jawa, Arab, dan Cina

Dalam menyelenggarakan Arodes, panitia menggandeng Karang Taruna Kelurahan Sumurboto. Menurut Zulfikar, karang taruna tersebut terpilih lantaran terkenal sering mengadakan kegiatan seni. Juga, senang mendukung kegiatan yang mengandung tema pluralisme. “Terima kasih karena mahasiswa Sastra Indonesia Undip menunjuk Karang Taruna Sumurboto untuk terlibat dalam acara ini.

Pada dasarnya kami senang bisa bersatu dengan siapapun, baik dengan saudara sebangsa maupun dengan bangsa lain,” kata Ketua Karang Taruna Sumurboto Reney Hamidane.

Sebagai bukti, karang taruna ini pernah menjalin kerja sama dengan Korean Red Cross, organisasi palang merah Korea. Remaja Karang Taruna Sumurboto ikut memeriahkan Arodes dengan mempersembahkan Tari Gambang Semarang. Sesuai lirik, ada empat perempuan menarikan tari ini. Dengan gemulai keempatnya berlenggak-lenggok sembari sesekali menyibakkan sampur yang menempel di pinggul.

Penampilan keempat diisi oleh dramatical reading dari Teater Emka. Teater asli FIB Undip ini mementaskan legenda cinta Sampek dan Engtay, sebuah drama dari Tiongkok yang kerap dianggap sebagai Romeo-Juliet versi China.

Oleh Teater Emka, Sampek diceritakan sebagai pemuda asli Pandeglang sedangkan Engtay adalah perempuan kaya dari Serang. Keduanya bertemu dalam perjalanan kereta menuju sekolah di Semarang. Singkat cerita, mereka saling jatuh cinta. Naas, Engtay terlanjur dijodohkan orang tuanya. Sampek pun sakit hati dan akhirnya meninggal dunia. Di hari pernikahannya, di perjalanan Engtay mampir ke kuburan Sampek.

Di sana ia menusukkan tusuk konde yang sempat ia berikan pada lelaki yang dicintainya itu. Mendadak, kuburan Sampek terbelah. Seketika Engtay masuk ke dalamnya dan akhirnya “bersatu” dengan Sampek.

Pergelaran Arodes ditutup dengan penampilan Tari Warak Ngendog hasil kolaborasi dengan Karang Taruna Sumurboto. Kecuali untuk memenuhi nilai Ujian Akhir Semester mata kuliah Manajemen Pertunjukan dan Kesenian, Zulfikar berharap Arodes membuka sudut pandang baru bagi masyarakat tentang pentingnya menghargai perbedaan di tengah masyarakat yang majemuk ini.(Sofie Dwi Rifayani-63)