image
24 Desember 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Cicipi Kuliner Tradisional di Festival Komukino 2017

MINGGU(17/12), sepanjang Jalan Kepodang kawasan Kota Lama Semarang berubah wajah. Jika biasanya area tersebut lengang, hari itu ratusan orang berkerumun di sana. Adalah Festival Komukino 2017, yang menjadi biang keramaian tersebut. Ada beberapa stan berjajar rapi di kanan dan kiri sisi. Sesuai tema “Jateng Gayeng”, stan tersebut merupakan representasi dari enam eks karesidenan di Jawa Tengah yaitu Banyumas, Kedu, Pati, Semarang, Surakarta, dan Pekalongan. Masing-masing stan itu menyuguhkan kuliner khas daerahnya.

Di stan Karesidenan Semarang, misalnya, ada sego glewo khas Kota Semarang. Makanan berbahan utama koyor dan daging sapi dengan guyuran kuah santan dan emping mlinjo ini kini sulit ditemui. Contoh lain ialah lentho khas Kabupaten Temanggung. Oleh beberapa orang, lentho dikenal sebagai lentho goreng atau mentho kacang tolo.

Salah satu inisiator Festival Komukino Edi Nurwahyu Julianto menjelaskan, sejumlah kuliner tradisional yang kini jarang ditemui itu sengaja ditampilkan agar masyarakat yang belum mengenalnya bisa menikmati rasa asli kuliner tersebut. “Setidaknya ada 42 menu dari enam eks karesidenan di Jawa Tengah. Tiap karesidenan menampilkan tujuh jenis kuliner,” papar Edi.

Yang menarik, sebagian kuliner yang diangkat tidak melulu tampil orisinal. Contohnya Karesidenan Pati yang menginovasi jadah khas Kabupaten Rembang. Jadah yang biasanya tampil polos, oleh tim Karesidenan Pati disulap berbentuk makanan khas Jepang, sushi. “Jadah Sushi” atau Jad-su tersebut dikemas secara modern menggunakan wadah mika.

“Selain Jad-su, kami juga menginovasi kopi Jolong. Kopi khas Kabupaten Pati ini diberi ekstrak buah leci dan pisang sehingga rasanya lebih variatif,” jelas salah satu tim Karesidenan Pati, Tata. Pengemasan kuliner tradisional jadi kekinian itu semata dilakukan untuk mengenalkan generasi muda tentang ragam kuliner tradisional yang acapkali dianggap tidak menarik untuk dinikmati. Pasalnya, mengapresiasi kuliner daerah sama halnya dengan melestarikan kebudayaan.

Komunikasi dan Inovasi

Festival Komukino, yang merupakan akronim komunikasi dan inovasi, pertama kali terselenggara enam tahun lalu. Tahun pertama hingga keempat, kegiatan tahunan tersebut digelar di Universitas Semarang (USM).

Barulah pada tahun kelima Festival Komukino ke luar kandang dan mengambil lokasi di Stadion Diponegoro Semarang. “Pelaksana Festival Komukino adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi USM angkatan 2015 dan 2016 yang mengambil mata kuliah Komunikasi Pemasaran, Manajemen Acara, serta Internal dan Eksternal Public Relation,” tutur Edi selaku dosen mata kuliah Komunikasi Pemasaran.

Edi melanjutkan, sebagai bentuk implementasi tiga mata kuliah tersebut, mahasiswa harus bekerja sama mulai dari pembagian tim, riset produk kuliner, pembaharuan produk, dekorasi stan, hingga memasarkan ke pengunjung. Dari enam tim karesidenan, per dua tim diwajibkan mengkreasikan satu “kampung” yang merepresentasikan kearifan lokal.

Pertama ialah Kampung Jamu. Di stan tersebut pengunjung bisa mencicipi sekaligus melihat proses pembuatan jamu. Ada pula Kampung Batik, di mana pengunjung bisa mencoba membuat batik. Lalu ada Kampung Dolanan yang memfasilitasi ragam mainan tempo dulu, misalnya bakiak, engklek, atau enggrang. “Inilah saat yang tepat bagi mahasiswa untuk terlibat. Bahwa sesuatu yang tradisional jangan disepelekan.

Sebaliknya, dengan mengemasnya dengan baik maka hal-hal tradisional bisa terlihat menarik,” komentar Edi tentang kreasi kampung itu. Selain kreasi kampung dan festival kuliner, Festival Komukino juga menyelenggarakan lomba tari, karaoke, dan fotografi untuk kalangan umum. Di samping itu, acara yang berlangsung sejak siang hingga malam itu juga punya misi sosial melalui penggalangan buku. Dari kegiatan itu terkumpul 1.300 buku yang kemudian disalurkan ke komunitas buku dan Kantor Pos.

Festival Komukino diharapkan bisa menjadi angin segar bagi perkembangan seni dan kebudayaan, khususnya lingkup Jawa Tengah. Dan, bisa jadi wadah generasi muda untuk peduli terhadap hal-hal yang bersifat tradisional.(Sofie Dwi Rifayani-63)

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI