image
27 Desember 2017 | Hello Kampus

Bersinergi dengan Pondok Pesantren

  • Dr HA Luthfi Hamidi, M Ag

”Dari tiga visi itu kami tanamkan kepada para mahasiswa untuk memiliki karakter dan semangat mencari ilmu, spirit berkompetisi tangguh, dan menjadi trendsetter”

INSTITUTAgama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, terus berinovasi dan menciptakan berbagai terobosan untuk menghasilkan output yang unggul, salah satunya dengan menjalin sinergi dengan pondok pesantren.

Sinergi ini untuk mewujudkan alumni yang tidak hanya paham di bidang ilmu agama Islam, namun juga mampu mengembangkan serta menyebarluaskan ilmu agama dan kebudayaan Islam ketika mereka hidup bermasyarakat. Kerja sama antara perguruan tinggi agama Islam dengan pondok pesantren kali pertama terjalin pada 2010 dengan lima pondok pesantren di sekitar radius sepuluh kilometer dari kampus.

Pondok pesantren dinilai menjadi lembaga yang memiliki kekuatan dalam membangun generasi muda Islam yang unggul. “Kerja sama dengan pondok pesantren, bagi kami sangat monumental. Ini juga tidak ada di tempat lain,” kata Rektor IAIN Purwokerto Dr HALuthfi Hamidi, M Ag.

Menurut dia, terobosan yang mewajibkan mahasiswa baru yang belum lulus baca tulis Alquran ke pondok pesantren selama satu tahun, dapat menjadi garansi bahwa lulusan IAIN Purwokerto memiliki basic keilmuan keagamaan, minimal memiliki kemampuan baca tulis Alquran. Kedua dengan bersinergi dengan pondok pesantren, antara perguruan tinggi dengan pondok pesantren akan samasama berkembang seiring berjalan.

Program pesantrenisasi ini memberikan dampak positif, salah satunya jumlah santri di pondok pesantren di sekitar kampus meningkat. Kontribusi IAIN Purwokerto dalam upaya menjaga eksistensi pesantren melalui kemitraan terus ditingkatkan. Saat ini, terdapat 27 pesantren yang telah menjalin bekerja sama dan menampung hampir 70 persen mahasiswamahasiswi dari total 7.800 mahasiswa.

Tiga PilarVisi

Dampak positif lain adalah ekonomi kerakyatan di lingkungan pondok pesantren tumbuh sehingga menciptakan pemerataan karena pertumbuhan ekonomi tidak terfokus pada satu titik, namun terpencar di lingkungan pesantren. Sementara itu, program kerja sama dengan pondok pesantren, tahfiz, selalu mengalami peningkatan. Awalnya santri mungkin tidak terbayang mau tahfiz, tapi karena ada kewajiban pesantrenisasi, kemudian muncullah keinginan menjadi tahfiz.

Apalagi IAIN Purwokerto memberikan beasiswa untuk mahasiswa tahfiz yang mampu menghafal ayat-ayat Alquran sepuluh juz, bahkan yang baru hafal lima juz pun juga diberi beasiswa. Lutfhi mengatakan, IAIN Purwokerto memiliki tiga pilar visi, pertama menjadi perguruan tinggi yang Unggul, Islami, dan Berkeadaban.

Adapun misinya, antara lain, menjadi pusat studi Islam yang inklusif dan integratif, menghasilkan sarjana yang berdaya saing dan berakhlak mulia, dan mengembangkan peradaban Islam Indonesia. Melalui implikasi visi tersebut, ada tiga spirit yang ditanamkan kepada seluruh mahasiswa.

Pertama, mahasiswa harus memiliki semangat untuk menggali, mencari ilmu, dan melakukan kajian. “Kami menekankan dan mendorong kepada mahasiswa agar mereka memiliki keingintahuan dan mau belajar yang tinggi,” katanya. Spirit kedua yang kami tanamkan adalah punya semangat dan berani berkompetisi dan bersaing dengan kompetitor.

Spirit ketiga, ialah uswatun khasanah atau dapat diartikan menjadi the trendsetter, bukan followers. “Dari tiga visi itu kami tanamkan kepada para mahasiswa untuk memiliki karakter dan semangat mencari ilmu, memiliki spirit berkompetisi tangguh, dan menjadi trendsetter,” kata dia menjelaskan.(23)

Penulis dan foto :Puji Purwanto
Penyunting :Dwi Ani Retnowulan

SMCETAK TERKINI