07 Januari 2018 | Serat

ESAI

Jawa Membaca Manca

  • Oleh Udji Kayang Aditya Supriyanto

Jawa berhadapan dengan sastra dunia. Pada 2010, kita mendapati LíEtranger (1942) karya Albert Camus diterjemahkan ke bahasa Jawa. Penerjemahan itu dianggap tak lumrah. Penerjemah juga keteteran.

Beberapa kata asing gagal diterjemahkan dalam bahasa Jawa. ”Prasasat langit kabukak saka pucuk menyang ujung lan nibakake udan geni. Awakku kabeh kaya kageret lan tanganku meksa nggegem revolver.” Penerjemah memilih mempertahankan revolver, alih-alih mengganti dengan bedil. Revolver senjata api dengan peluru dimasukkan lewat tabung berputar. Bedil senapan. Keduanya sama-sama senjata api, tetapi penerjemah bersetia pada kebendaan. Revolver dan bedil kurang sepadan. Kata asing terpaksa dipertahankan. Penerjemahan sastra dunia ke bahasa Jawa sudah digiati sejak lama, meski sangat sepi dibandingkan penerjemahan ke bahasa Indonesia.

Kita bisa membaca Putri Messalina (1989) garapan W Rozenkranz dalam bahasa Jawa berkat terjemahan Soebagijo Ilham Notodidjojo. Soebagijo menulis, ”Cariyos Putri Messalina menika jarwan saking basa manca. Ingkang dados bakuning cariyos nggambaraken satunggiling prameswari ing negari Ngerum, nama Putri Messalina. Sang Putri menika kalebet ewoning wanita ingkang boten setya ing kakung, kepara kepengin ngloropaken kakungipun piyambak, inggih menika Mahaprabu Claudius, ingkang dipun ojok-ojoki supados ngluruga dhateng Britania.” Soebagijo ingin mendekatkan kisah dan peristiwa di Britania ke semesta kebahasaan Jawa. Soebagijo menyadari penerjemahan sastra dunia ke bahasa Jawa belum kenceng. ”Buku jarwan basa Jawa saka basa manca, ora patia akeh cacahe. Luwih-luwih ing jaman kamardikan iki; persasat ora ana babarpisan,” tulisnya Februari 1983. Penerjemahan sastra dunia ke bahasa Jawa dianggap mandek sejak pascakemerdekaan hingga tahun 80-an.

Padahal, pada masa lampau penerjemahan digiatkan betul. ”Dhek sadurunge perang biyen, Balai Pustaka sering mbabar buku roman jarwan saka basa manca; disedhiyakake kanggo bocah-bocah (Badan Sapata, Piet Pon Bles, Dongeng Adi, lan sapanunggalane), lan uga kagem para sepuh (Gandrungipun Nata Sepuh, Wewadosipun Kraton Spanyol, Tarzan Wanara Seta, lan sapanunggalane).” Dalam konteks perbukuan, pernyataan Soebagijo ada benarnya. Namun bukan berarti penerjemahan sastra dunia ke bahasa Jawa benarbenar mandek. Absen dalam wujud buku, penerjemahan berkiprah di berbagai terbitan berkala.

Majalah berbahasa Jawa semisal Djaja Baja dan Panjebar Semangat rajin menyajikan terjemahan sastra dunia untuk pembaca berbahasa Jawa. Putri Messalina pun termasuk upaya itu. ”Crita Putri Messalina iki yektine wus nate dianggo feuilleton (crita sambung-sinambung) ana ing mingguan Panjebar Semangat, udakara tahun 1955-an ngono. Dadi, anggone njarwakake iya migunakake basa Jawa cakrik taun semonoan.”

Mendekat ke Pembaca

Penerjemahan sastra dunia ke bahasa Jawa tak selalu menyasar prosa, tapi juga puisi. Menerjemahkan prosa ke bahasa Jawa berarti mendekatkan pembaca berbahasa Jawa ke kisah, peristiwa, dan suasana yang terasa jauh. Prosa “manca” dibawa masuk ke rumah Jawa. Prosa manca dibaca orang Jawa sembari ngaso. Namun puisi membawa persoalan lain. Puisi selalu dianggap memakai bahasa yang lain dan lebih tinggi ketimbang prosa. Jika prosa cukup lugas dan bersahaja, puisi penuh metafora. Maka penerjemahan puisi ke bahasa Jawa jadi menantang. Kita boleh mengintip majalah Djaja Baja Nomor 10, Taun XXI (Minggu Wage, 13 Nopember 1966) yang menampilkan puisi dari empat penyair Jepang.

Puisi itu diterjemahkan Herdian Suhardjono dari bahasa Inggris, bahasa paling manca. Kita menjumpai puisi Fuyuji Tanaka berjudul “Lawang Katja Kang Anjes”: manuk latuk ing gedhong pamulangan kanggo botjah wadon/mandeng liwat lawang katja/gunung kang dununge ing imbang lor kana/o, saldju sida ngampakampak ing dhuwure gunung mau. Pada puisi itu, penerjemah gagap. Herdian menerjemahkan woodpecker menjadi manuk latuk. Namun pada baris yang sama, ia keteteran menerjemahkan zoology room of a girls school alias laboratorium zoologi di sekolah perempuan.

Penerjemah mentok di gedhong pamulangan kanggo botjah wadon. Konfigurasi ruang masih asing bagi semesta kebahasaan Jawa. Istilah zoologi sebagai bidang keilmuan yang belum familiar pun dihindari. Konfigurasi ruang dalam puisi terasa asing sejak judul. Kita menduga lawang katja atau pintu kaca belum lazim di Indonesia, terkhusus di Jawa. Pintu Jawa dari kayu. Sampai hari ini, di Jawa rumah berpintu kayu masih dianggap mewah dan bermartabat. Bergerak ke baris berikutnya, kita dipertemukan dengan salju. Kita yakin seyakin-yakinnya, di Jawa tak ada salju. Orang Jawa kenal salju lewat puisi dari Jepang. Mengingat salju Jepang mestinya mengingat Yasunari Kawabata, pengarang Yukiguni (1947). Yukiguni dianggap salah satu karya puncak Kawabata. ”Sebagai roman bentuknya unik. Ia boleh dikatakan tidak mempunyai alur yang berkembang, melainkan terdiri dari episodeepisode,” tulis Ajip Rosidi.

Di Yukiguni, kita berjumpa kendala penerjemahan. Yukiguni diterjemahkan secara ideal ke bahasa Inggris menjadi Snow Country. Namun dalam bahasa Indonesia, penerjemahan pas justru Daerah Salju. “Perkataan ”kuni”dalam bahasa Jepang memang sejajar dengan kata ”country” dalam bahasa Inggris, tetapi mengandung arti yang tidak terdapat dalam perkataan ”negeri”dalam bahasa Indonesia.... Karena itu, sebagai gantinya dipakai perkataan ”daerah”yang dianggap lebih cocok.” Kasus penerjemahan serupa juga terjadi pada puisi di majalah Djaja Baja. Puisi Azuma Kondo yang dalam bahasa Inggris berjudul “The Country”, ke bahasa Jawa menjadi “Ing Dusun”. Country dan dusun terasa jauh. Kita mengintip puisi itu sedikit saja: kenja mau kajadene retja Hongaria/bijen nate ketemu karo aku/bandjur pepisahan/kaja sepur loro kang simpangan. Aduh, penyair ketemu perempuan seperti retja Hongaria?(44)

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI