image
13 Januari 2018 | Spektrum

Hantu, Anggrek Unik Ditemukan di Jogja

ANGGREKmerupakan salah satu jenis bunga yang dikenal dengan keindahan dan aromanya yang wangi. Selain itu, tanaman hias ini juga memiliki nilai jual yang tinggi. Namun belum lama ini ada jenis anggrek baru tumbuh di Indonesia yang sangat kontradiktif dengan anggrek pada umumnya. Selain warnanya yang tidak menyolok (putih, hitam dan kecokelatan), aroma bunga nya pun busuk.

Adalah Destario Metusala, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya Purwodadi bersama peneliti biologi konservasi Universitas Indonesia, Jatna Supriatna yang telah menemukan anggrek yang kemudian diberi nama anggrek hantu itu. Spesies anggrek baru ini pertama kali ditemukan di Turgo, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, persisnya di lereng selatan Gunung Merapi, pada awal 2016. Sedangkan spesies serupa ditemukan di kawasan Gunung Pangrango, Jawa Barat, pada awal 2017.

Anggrek baru ini diklaim termasuk ke dalam golongan holomikotropik, yakni tumbuhan yang menyukai lingkungan gelap, kemunculan yang tak dapat diduga dan tidak memiliki daun sehingga tidak bisa melakukan fotosintesis. Tapi anggrek ini bukan juga tak bersifat parasit. Selain itu anggrek ini menghasilkan aroma ikan busuk yang dapat mengundang serangga polinator. Anggrek jenis baru ini punya nama ilmiah Gastrodia bambu.

Dunia Kematian

Anggrek kelompok holomikotropik ini umumnya hanya muncul pada satu periode pendek (2-4 minggu) dalam satu tahun. Perbungaannya secara tiba-tiba akan muncul dari permukaan tanah/seresah, kemudian setelah 1-2 minggu perbungaan akan layu busuk dan lenyap. Kombinasi warna bunga genus Gastrodia pun tidak pernah mencolok, umumnya berkisar pada putih, kekuningan, hingga kecoklatan. ‘’Terlebih anggrek ini menyukai habitat yang gelap, lembab, dan selalu berdekatan dengan rumpun bambu lebat yang sudah tua.

Tidak mengherankan apabila spesies ini memiliki kesan konotasi ëangkerí,’’ kata Destario belum lama ini. Gastrodia bambu diduga memerlukan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Anggrek ini sangat peka terhadap kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan juga perubahan pada media tumbuhnya.

Gangguan pada habitat anggrek itu, misalnya pembukaan rumpun bambu, diduga akan berdampak terhadap perubahan kelembaban, intensitas cahaya dan juga sifat biologi pada media tumbuhnya, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan populasi anggrek ini. Adanya perubahan iklim global yang menyebabkan perubahan intensitas curah hujan tahunan, diperkirakan sangat memengaruhi periode perbungaan dan pertumbuhan populasi anggrek holomikotropik ini. Gastrodia bambu memiliki bunga berbentuk lonceng dengan ukuran panjang 1,7-2 cm dan lebar 1,4-1,6 cm.

Bunga didominasi warna coklat gelap dengan bagian bibir bunga berbentuk mata tombak memanjang bercorak jingga. Pada satu perbungaan dapat menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian. Bunga menghasilkan aroma ikan busuk untuk mengundang serangga polinator.

Perbungaan muncul dari tanah berseresah di bawah rumpun-rumpun bambu tua pada ketinggian 800 - 900 m dpl. Atas semua hal unik itu wajar bila anggrek ini dianggap merepresentasikan dunia kematian. Anggrek ini juga termasuk ke dalam golongan holomikotropik sehingga disebut anggrek hantu. Namun belum lama ini ada jenis anggrek baru tumbuh di Indonesia yang sangat kontradiktif dengan anggrek pada umumnya. Selain warnanya yang tidak menyolok (putih, hitam dan kecokelatan), aroma bunga nya pun busuk.

Adalah Destario Metusala, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) Kebun Raya Purwodadi bersama peneliti biologi konservasi Universitas Indonesia, Jatna Supriatna yang telah menemukan anggrek yang kemudian diberi nama anggrek hantu itu. Spesies anggrek baru ini pertama kali ditemukan di Turgo, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, persisnya di lereng selatan Gunung Merapi, pada awal 2016. Sedangkan spesies serupa ditemukan di kawasan Gunung Pangrango, Jawa Barat, pada awal 2017.

Anggrek baru ini diklaim termasuk ke dalam golongan holomikotropik, yakni tumbuhan yang menyukai lingkungan gelap, kemunculan yang tak dapat diduga dan tidak memiliki daun sehingga tidak bisa melakukan fotosintesis.

Tapi anggrek ini bukan juga tak bersifat parasit. Selain itu anggrek ini menghasilkan aroma ikan busuk yang dapat mengundang serangga polinator. Anggrek jenis baru ini punya nama ilmiah Gastrodia bambu. Dunia Kematian Anggrek kelompok holomikotropik ini umumnya hanya muncul pada satu periode pendek (2-4 minggu) dalam satu tahun.

Perbungaannya secara tiba-tiba akan muncul dari permukaan tanah/seresah, kemudian setelah 1-2 minggu perbungaan akan layu busuk dan lenyap. Kombinasi warna bunga genus Gastrodia pun tidak pernah mencolok, umumnya berkisar pada putih, kekuningan, hingga kecoklatan. ‘’Terlebih anggrek ini menyukai habitat yang gelap, lembab, dan selalu berdekatan dengan rumpun bambu lebat yang sudah tua. Tidak mengherankan apabila spesies ini memiliki kesan konotasi ëangkerí,’’ kata Destario belum lama ini.

Gastrodia bambu diduga memerlukan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Anggrek ini sangat peka terhadap kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan juga perubahan pada media tumbuhnya. Gangguan pada habitat anggrek itu, misalnya pembukaan rumpun bambu, diduga akan berdampak terhadap perubahan kelembaban, intensitas cahaya dan juga sifat biologi pada media tumbuhnya, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan populasi anggrek ini.

Adanya perubahan iklim global yang menyebabkan perubahan intensitas curah hujan tahunan, diperkirakan sangat memengaruhi periode perbungaan dan pertumbuhan populasi anggrek holomikotropik ini. Gastrodia bambu memiliki bunga berbentuk lonceng dengan ukuran panjang 1,7-2 cm dan lebar 1,4-1,6 cm. Bunga didominasi warna coklat gelap dengan bagian bibir bunga berbentuk mata tombak memanjang bercorak jingga.

Pada satu perbungaan dapat menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian. Bunga menghasilkan aroma ikan busuk untuk mengundang serangga polinator. Perbungaan muncul dari tanah berseresah di bawah rumpun-rumpun bambu tua pada ketinggian 800 - 900 m dpl. Atas semua hal unik itu wajar bila anggrek ini dianggap merepresentasikan dunia kematian. Anggrek ini juga termasuk ke dalam golongan holomikotropik sehingga disebut anggrek hantu. (23)

Penulis :Dini Failasufa dan Dwi Ani Retnowulan
Penyunting :Dwi Ani Retnowulan

SMCETAK TERKINI