14 Januari 2018 | Serat

Sebuah Taman, Sebuah Pertemuan

  • Cerpen Mashdar Zainal

“JADI,sudah berapa tahun kita tidak bertemu?” Mereka berjalan pelan. Menyusuri taman. Seperti sepasang kupu-kupu yang terbang hati-hati mencari tempat teduh. “Maksudmu, sudah berapa tahun kita berpisah?” “Sama saja.”

Mereka tahu, hari-hari yang telah lewat seperti bui yang tidak tampak. Jiwa mereka terkurung. Satu sama lain. “Aku lupa, mungkin hampir sepuluh tahun.” “Cukup lama juga ternyata.” Sekarang, sesaat, mereka merasa bebas. Menikmati cahaya senja yang tumpah di rerumputan. “Apa kau merasa tidak enak kita bertemu di sini?” “Tidak juga.”

Di antara langkah kaki itu, mereka mendapati sesuatu yang masih utuh, sesuatu yang menyalanyala. Mereka heran dan hati mereka berdebardebar. “Apa suamimu tak akan marah?” “Ia sudah tahu. Aku sudah bilang, sepulang kerja aku akan bertemu seseorang, teman lama.” “Apa kau bilang teman lamamu itu laki-laki?” “Ya.” “Dia tidak marah?”

“Dia bukan tipe lelaki seperti itu, yang mudah curiga atau cemburu.” “Apa kau yakin, ia mencintaimu?” Ada sebuah pertanyaan yang rasanya keliru dan tidak pantas dilontarkan, tapi bibir itu tak mampu menahan getar hingga limbung dan ada yang terpeleset keluar dari liang ucap. Pertanyaan itu. “Pertanyaan macam apa itu?” “Maaf. Lupakan saja.” “Tidak apa-apa. Lagipula mencintai atau tidak mencintai bukanlah masalah bagi kami. Prioritas kami sekarang anak-anak, bukan cinta.

Mungkin kami cukup bahagia.” Mungkin kami cukup bahagia. Kata-kata itu mendedas isi kepala. Namun langkah mereka masih terus terayun. Meski pelan sekali. Ada percik serupa kembang api yang mencubit perasaan mereka. Entah apa. “Jadi, apa alasanmu datang ke kota ini lagi?” Ketika mereka melewati serumpun mawar yang berbunga setinggi pinggul, perempuan itu menghentikan langkah, dan memetik sekuntum.

Lantas dia cium mawar itu penuh hasrat. Mereka berjalan lagi. Masih pelan sekali. “Cuma urusan pekerjaan yang sebaiknya tidak kuceritakan. Aku yakin, kau akan bosan mendengarnya.” “Kau benar. Aku tak tertarik sama sekali pada pekerjaanmu. Aku lebih tertarik mengetahui bagaimana kabar rumah tanggamu.” Laki-laki itu menunduk, mengamati langkah sepatunya yang saling mendahului. Lantas ia mengangkat wajah dan menatap ke depan.

”Rumah tanggaku? Baik-baik saja.” “Istrimu?” “Istriku juga baik-baik saja. Dia wanita karier yang sibuk.” Perempuan itu memutar-mutar tangkai mawar yang ia pegang, tanpa sadar sehelai kelopak merah pekat terlepas. “Jadi, berapa anakmu sekarang?” “Istriku belum mau kami punya momongan.” “Mungkin istrimu punya alasan.” “Mungkin.

Kau... bagaimana kabar anak-anak?” “Anak-anakku? Mereka anak-anak yang menyenangkan.” “Ya, anak-anak selalu menyenangkan, tak seperti orang dewasa.” “Begitulah.” “Sepertinya kehidupan rumah tanggamu baikbaik saja, bahkan menyenangkan.” “Ya, mungkin itu patut disyukuri.” “Apa kau tidak ingin duduk?” “Boleh.” Dua anak manusia yang lupa usia itu menghentikan langkah, dan duduk hampir bersamaan di sebuah bangku beton di pusat taman. Angin semilir. Menghanyutkan. “Taman ini masih seramai dulu ya?”

“Dulu kapan maksudmu?” “Seingatku, sewaktu kita masih kuliah, kita sering sekali mengunjungi taman ini.” “Kau masih ingat rupanya.” “Ingatanku cukup bagus.” “Coba kaulihat gadis itu.” “Gadis itu siapa?” Menoleh kiri kanan. “Itu! Yang duduk sendirian dan membawa novel The Orange Girl Jostein Gaarder.” “Gadis di bawah pohon mimosa itu maksudmu?” “Ya. Dia.”

“Apa kau mengenalnya?” “Tidak. Hanya gadis itu mengingatkanku pada puluhan tahun lalu ketika aku masih belia, mungkin seusia dia.” “Memang ada apa dengan gadis itu?” “Tidakkah kaulihat ia tampak begitu gelisah menunggu seseorang. Lihatlah buku yang dia bawa itu, cuma dia bolak-balik, dia tutup lagi, dia buka lagi. Buku itu sekadar teman untuk mengalihkan kejenuhan menunggu seseorang.”

“Aku yakin, dulu kau pernah melakukan hal yang sama.” “Gila! Apa kau lupa, kau selalu datang terlambat.” “Benar. Aku sudah lupa.” Mereka tertawa ringan dan sama-sama diam beberapa saat. Cahaya senja tumpah di wajah mereka. Berkilap-kilap. “Baiklah, kau belum menceritakan bagaimana kehidupanmu sekarang.” “Bukankah tadi sudah kuceritakan. Kehidupanku baik-baik saja, dan istriku wanita karier yang sibuk.”

“Apa kau mencintainya?” Pertanyaan semacam itu lagi. Sebuah pertanyaan yang rawan. “Aku tak tahu.” “Lalu apa prioritasmu hidup dengannya? Oke, kita tidak membahas siapa mencintai siapa. Tapi, dalam hidup, setidaknya kau harus punya prioritas. Dan anak-anak terkadang menjadi prioritas paling tepat untuk tetap hidup dengan seseorang yang mungkin tak kaucintai.”

Obrolan makin rawan dan kedunya tampak makin menikmati. Nyala api yang timbul-tenggelam itu. “Entahlah.” “Hei, lihat gadis itu. Tampaknya kekasihnya tengah menelepon dan memohon maaf karena datang terlambat.” “Mungkin kekasihnya tak akan datang.” “Kalau aku jadi dia, aku sudah enyah dari taman ini.” “Mengapa dulu kau tak melakukannya?” “Aku kasihan padamu.” “Aku yakin alasanmu bukan itu.” “Terserah.” “Lihatlah, gadis itu sekarang menangis.” “Benarkah?” “Pasti kekasihnya tak jadi datang.”

“Belum tentu.” “Buktinya ia masih tergugu di situ.” “Mungkin gadis itu memang bodoh.” “Hus, tak baik membodoh-bodohkan orang.” “Setidaknya jika masih ingin menunggu, ia tak perlu menangis.” “Kupikir yang dimiliki perempuan memang cuma tangisan.” “Dan yang dimiliki laki-laki cuma pengkhianatan.” “Tidak semua. Buktinya, dulu, kau mengkhianatiku.” “Jika kau berada di posisiku, mungkin kau akan melakukan hal yang sama.” “Mungkin.” “Jadi yang kulakukan bukan pengkhianatan. Hanya sebuah pilihan.”

“Aku senang kau mengambil pilihan yang tepat.” “Iya. Aku juga lega melihat ayahku bisa pergi dengan tenang.” “Kupikir, dulu, ayahmu cuma menggertakmu dengan penyakitnya itu.” “Aku tahu. Tapi, bagaimanapun, ayah tetaplah ayah.” “Aku maklum, meski rasa sakit itu terkadang masih kerap datang.” “Itu sudah puluhan tahun berlalu.” “Celakanya, ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa dihapus oleh waktu.” “Hmm.... Sebaiknya kita membicarakan hal lain saja.” “Ya.” Mereka terdiam.

Saling menyelami kedalaman pikiran masing-masing. Namun, di sebuah tempat yang tak mereka yakini keberadaannya, sesuatu itu masih berdenyar dan menyala-nyala. Hingga seolah mereka tak sanggup lagi berkata-kata. “Kau bekerja, suamimu bekerja. Anak-anak?” “Ada seorang asisten rumah tangga di rumah.” “Pukul berapa biasanya suamimu pulang kerja?” “Mungkin sekarang ia sudah sampai di rumah.” “Apa tidak sebaiknya kita pulang saja?” “Mengapa terburu-buru?” “Aku tak enak pada suamimu.”

“Sudah kubilang, suamiku bukan tipe-tipe lelaki pencemburu. Lagipula aku sudah bilang akan pulang telat.” “Kalau aku jadi suamimu, pasti aku sudah membunuhmu.” “Dan kau.... Kira-kira apa yang akan istrimu lakukan jika ia tahu diam-diam kau menemui seorang wanita dengan dalih dinas keluar kota.” “Sudah kubilang, istriku wanita karier yang sibuk. Ia tak akan punya waktu memikirkan itu.”

“Kalau aku jadi istrimu, pasti aku sudah membunuhmu.” Mereka tertawa bersamaan. Ada sesuatu yang tiba-tiba mencair. Mereka lekas menyadari sesuatu; selama ini mereka tak pernah sebahagia itu. “Lihat, kekasih gadis itu akhirnya datang juga. Ia membawa bunga sebagai ungkapan maaf. Tampaknya ia perayu yang baik.” “Mana?” “Kalau boleh menebak, pasti gadis itu perempuan simpanan. Lihatlah, lelaki itu tampak jauh lebih tua. Meski ia memang masih tampan.” “Lelaki itu?” “Ia masih mengenakan pakaian kantor.

Berani taruhan, dia pasti sudah punya istri.” “Dia?” “Kenapa? Apa kau mengenalnya?” “Oh, tidak. Aku tidak mengenalnya.” “Sebentar, sebentar, tapi sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana, ya? Hei, kenapa kau menangis?” “Mataku kelilipan. Entahlah. Sebaiknya kita segera pergi dari sini.” “Hei, ada apa? Mengapa tiba-tiba kau....”

“Lelaki itu... kau memang pernah melihatnya... dan aku bohong kalau aku tak mengenali ayah anakku.” Mereka membatu memperhatikan dua sejoli yang berpeluk dan berjalan pelan, meninggalkan taman. Sepi. Senja seolah redam. Lampu-lampu taman menyala. Ada yang tertahan. Sesungguhnya mereka ingin berpelukan. Tapi mereka hanya diam. Menahan sesuatu yang kian berdenyar dan menyala-nyala. (44)

Malang, 2014
-Mashdar Zainal, lahir di Madiun, Jawa Timur, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI