image
14 Januari 2018 | Berita Utama

In Memoriam Darmanto Jatman:

''Kegelisahan yang Tersembunyi''

  • Oleh Adi Ekopriyono

PERGAULANdengan Pak Darmanto Jatman berawal ketika saya menjadi mahasiswanya di Fakultas Sosial dan Politik (Sospol) Undip, 1978. Dia pernah menyetrap saya untuk berdiri di depan kelas sampai jam kuliah berakhir, tanpa alasan jelas. Kejadian itulah yang justru membuat pergaulan kami makin dekat.

Tahun 2000-an, Pak Dar mengajak saya bergabung dengan Limpad, yayasan yang ia kelola bersama perempuan aktivis, Ani Soemantri Sumampouw. Pertemuan kami makin intens; berdiskusi, melakukan penelitian, pelatihan-pelatihan, menulis buku bersama. Pak Dar (teman-teman akrab menyapanya: Mas Totok) adalah guru dan teman diskusi yang baik; senior yang selalu memberi motivasi kepada yunior. Dia tidak sungkan belajar dari juniornya.

Seringkali Pak Dar minta pendapat saya tentang sesuatu yang ia anggap saya lebih tahu. Kemudian ia menulis katakata saya dalam buku catatan yang selalu ia bawa di dalam tas kulit warna cokelat. Pak Dar juga pintar ngemong. Ia sering tampil sebagai penengah pada saat kami terlibat perdebatan sengit.

Ia lebih memilih jalan tengah daripada harus ikut ngotot. Bukan berarti Pak Darmanto tidak punya prinsip. Beberapa kali ia juga bicara tegas, meskipun di kali yang lain bisa santun dan lembut. Tegas kalau memang diperlukan untuk tegas, santun-lembut kalau memang harus bersikap santun dan lembut. Ya, seperti ajaran Ki Ageng Suryamentaram mulur mungkret itu. (Pak Dar memang pengagum Ki Ageng Suryamentaram).

***

KETIKAfrekuensi kegiatan Limpad mulai menurun, pada 2002, penyair ''mbeling'' ini mengajak saya bergabung dengan Yayasan Forsa (Forum Salatiga) yang dipelopori oleh dosen-dosen dan mantan dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Intensitas saya menjadi ''sopir'' Pak Dar pun meningkat, sejalan dengan peningkatan kegiatan antar-jemput Semarang-Salatiga.

Forsa melakukan berbagai kegiatan penelitian, penulisan buku, pelatihan-pelatihan. Dalam berbagai kegiatan itu, bagi saya Pak Dar adalah guru yang baik. Dia selalu membimbing saya dalam melakukan penelitian, penulisan buku, pelatihan-pelatihan yang baik dan benar. Pak Dar adalah orang yang teliti dan tekun dalam melakukan kegiatan-kegiatan.

Cara berpikir dan menyelesaikan masalah menandakan dia kuat dalam bidang filsafat ilmu (yang selalu berusaha menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu). Saya banyak belajar dari cara berpikir itu. Saya yakin, pendekatan itulah yang membuat Pak Dar ''berbeda'', lain dari yang lain, sehingga memikat banyak orang. Seringkali ungkapan, usulan, masukan, atau kritikan yang dia lontarkan, belum terpikirkan oleh orang lain.

Ya, itulah ''berpikir di luar kotak'' (think out of the box atau mikir seka njaba kardus). Itu pula sebabnya Pak Dar juga sering dicap sebagai dosen nyeleneh, nyentrik, nyelelek, dan sejenisnya.

***

TAHUN 2006, Pak Dar mengajak saya melanjutkan studi di Program Doktor Studi Pembangunan UKSW. Mungkin ajakan itu dipicu oleh keinginannya untuk meraih gelar doktor, sehingga setelah itu bisa menjadi guru besar (profesor).

''Di, kita harus kuliah bareng. Kalau tidak, siapa nanti yang nyopiri akuÖ?'' katanya. Sayang, rencana kuliah bareng itu batal, karena Pak Dar lebih memilih biaya kuliah S-3 digunakan putranya menempuh studi S-2 di UGM. Ya, Pak Dar juga seorang ayah yang baik, yang lebih memikirkan anak daripada diri sendiri. Saya agak curiga, ajakannya untuk kuliah bareng hanya kedok untuk memotivasi agar saya melanjutkan kuliah S-3. Pikiran inilah yang kemudian mendorong saya bersemangat melanjutkan kuliah S-3.

Setidak-tidaknya, kalau saya berhasil lulus, tidak mengecewakan beliau. Bagi saya, Darmanto Jatman adalah guru kehidupan yang sangat berarti. Banyak hal yang saya peroleh selama bergaul dengannya. Satu hal yang (mungkin) tidak banyak diketahui orang lain adalah: Pak Darmanto sesungguhnya seseorang yang hidup dalam ''kegelisahan tersembunyi''.

Pernah suatu ketika ia berkata, ''Di, banyak orang yang tidak tahu apa yang saya pikirkan. Orang mungkin hanya tahu saya ini celelekan, suka nggasaki orang lain, suka meledek orang lain, suka menyindir orang lain. Tidak banyak yang tahu, bahwa saya sering tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang sudah saya katakan pada orang lain,'' katanya.

Pak Dar adalah orang yang mbatek, sering risau sendiri setelah nggasak, ngeledek, menyindir. Katanya, ia selalu memikirkan, jangan-jangan kata-kata yang sudah telanjur ia ucapkan itu membuat orang lain sakit hati, terluka, jengkel, atau marah. Ya, Pak Darmanto Jatman berhati lembut, meskipun kata-katanya sering kali terasa vulgar, spontan, atau bahkan sarkastis. Ia asertif, tapi mbatek.

***

KEGELISAHANseperti itu pula yang pernah ia ungkapkan kepada saya sehari sebelum terserang stroke. Ia menelepon saya, menyampaikan berbagai unek-unek dalam berbagai hal.

Mulai dari perasaannya yang down sepeninggal Omi Intan Naomi (salah seorang putrinya), beberapa hal berkaitan dengan persiapan punya gawe mantu, kekhawatiran kata-katanya bisa menyakiti orang, sampai masalah yang berkaitan dengan perkembangan Fakultas Psikologi Undip yang ia rintis. Berbeda dari biasanya (bicara penuh guyonan), sore itu suara Pak Dar di telepon terasa bergetar, serius, dan berat. Saya hanya bisa berusaha menjadi pendengar yang baik, sambil sesekali menghiburnya. Pembicaraan panjang lebar itu adalah pembicaraan terakhir saya dengan Pak Dar dalam suasana normal.

Pada keesokan harinya, saya menerima kabar Pak Dar terserang stroke. Setelah itu, ia tidak lagi mampu bicara dengan jelas. Penyair kribo itu telah tiada. Tak lagi ada kegelisahan yang tersembunyi; yang ada tinggal kedamaian di pangkuan Gusti murbeng dumadi.

Adi Ekopriyono, Wartawan Suara Merdeka.