image
18 Maret 2018 | Her Spirit

Firdausi Refani Kartika Utami

Seniman Hand Embroidery

Siapa sangka buku diskon yang dibeli di sebuah pameran buku murah membawa perubahan besar bagi Firdausi Refani Kartika. Gadis yang kerap disapa Fani ini mengaku iseng mencoba kreasi sulam usai membaca buku tentang hand embroidery. ”Awalnya iseng-iseng saja, karena masih proses mencari kerja setelah lulus. Dulu waktu ke toko buku dan melihat-lihat di bagian buku diskon, saya membeli sebuah buku tentang hand embroidery.

Langsung saja saya praktikkan di rumah dan ternyata sangat menyenangkan,”ujar Fani memulai cerita. Penyuka musik genre folk-pop yang kini menjadi seniman hand embroidery ini rupanya terus mengasah bakatnya usai menemukan buku sulam pertamanya. ”Awalnya hanya belajar sendiri dari buku, lalu saya cari juga tutorialtutorial di media daring.

Sampai suatu saat saya kepikiran untuk menyulam wajah orang untuk dijadikan kado. Akhirnya saya coba berkreasi dengan wajah teman lalu saya unggah di media sosial dengan nama custom hoopart hand embroidery,”tutur gadis asli Balikpapan ini senang. Apa sih hoopart hand embroidery itu? Pendiri sekaligus kreator tunggal dari vendor kreatif Teliti ini menjelaskan dengan antuasias. ”Embroidery itu menyulam di media kain, menyulam pita, benang, dan manik-manik.

Saya sangat suka dengan hand embroidery, karena hasil sulaman setiap orang itu berbeda maka hasilnya pun akan berbeda. Jadi, semacam bisa melihat kepribadian masing-masing orang hanya dari sebuah karya. Sangat menarik,”tutur penyuka telur dadar ini. ”Hoopart sendiri itu kegiatan crafting yang menggunakan bantuan alat bernama hoop.

Hoop adalah midangan yang digunakan biasanya untuk membordir dan sebagai alat bantu saat menyulam. Hasil akhir sulaman biasanya tetap saya pajang bersama hoop-nya, jadilan sebutan hoopart hand embroidery ala Fani,”tambah gadis berhijab ini antusias. Meski kini banyak yang menyukai karyanya, tak sedikit pula yang berkomentar buruk terutama soal harga yang dibandrol cukup tinggi. ”Awal membangun Teliti yang paling sulit adalah menentukan harga.

Di Indonesia sendiri sejauh ini banyak orang yang belum bisa mengapresiasi barang-barang handmade atau bikinan tangan. Jadi, dulu sering sekali banyak yang berkomentar barang yang saya jual kemahalan. Tapi saya lakoni saja dan Alhamdulillah banyak dari mereka yang lama-lama sadar betapa berartinya sebuah kreativitas,”kata gadis yang kini menetap di Semarang.

Tentang
Firdausi Refani Kartika Utami
Balikpapan, 6 April 1992
? Kreatif
? Suka hal baru
? Senang berbagi ilmu
? Penuh semangat
? Penyuka film animasi Ghibli

Teks :
Dhaneswari Tiara
Busana dan Foto :
Firdausi Refani Kartika Utami

SMCETAK TERKINI