image

LIBATKAN ANAK-ANAK : Mahasiswa Unsiq melibatkan anak-anak dalam kegiatan di kampus. (65)

28 Maret 2018 | Hello Kampus

Kuliah sambil Mengaji

Masih diingat betul saat masih muda dan menjadi santri, Rektor Unsiq, Muchotob Hamzah kesulitan mengenyam bangku kuliah. Kuliah sambil mengaji menjadi dua hal yang menyatu dan diterapkan oleh para tokoh pendiri Unsiq dalam mendidik anak bangsa.

Muchotob berpikir, jika dua hal itu dipadukan, akan lahir para sarjana yang tidak hanya memahami sains murni namun juga mampu mengaji dan membaca kitab kuning.

Oleh pendiri Unsiq KH Muntaha kemudian diteruskan generasi selanjutkan. Santri harus kuliah semacam menjadi dogma utama. Terbukti, ribuan santri dari berbagai belahan kota di Jawa dan luar Jawa telah lulus menimba ilmu di Unsiq.

Ada dari mereka yang menjadi bupati, politikus, atau mengabdi menjadi kalangan profesional. ”Di Unsiq ya kuliah ya mengaji menjadi satu langkah selaras yang kami lakukan dalam mendidik generasi bangsa,” katanya.

Muchotob mengaku akan terus berjuang dan memperjuangkan sebanyak mungkin santri bisa duduk dibangku kuliah. Ikhtiar ini sudah mulai mendapatkan respons positif dari pemerintah daerah hingga pusat dalam bentuk pembangunan gedung kampus dan sarana prasana di lokasi baru di jalur Dieng.

Pasang surut dinamika perkembangan ternyata berhasil mengembangkan Unsiq menjadi sebuah perguruan tinggi yang besar dan ternama di Jateng.

Setelah berkiprah selama 30 tahun, kini mereka tak hanya menyelenggarakan pendidikan program strata satu dan diploma tiga, namun juga program pascasarjana. Jumlah seluruh program studi adalah 25, yang semuanya telah terakreditasi BAN PT.

Pada April 2018 ini Unsiq bakal memperingati 30 tahun. Mengusung tajuk ”Refleksi 30 Tahun Pengabdian Unsiq untuk Umat, Bangsa dan Negara”, peringatan ini diperkirakan dihadiri ribuan masyarakat.

Bagi Muchotob, tema ini mengusung semangat untuk meningkatkan kesadaran atas gagasan pendidikan yang terintegral antara kepesantrenan, kemoderan dan keindonesiaan dalam bingkai Alquran.

Tanpa meninggalkan budaya dan kearifan lokal sebagai basis gerakan perubahan. Dengan adanya refleksi ini, diharapkan semua elemen dan pemangku kepentingan dunia kependidikan akan lebih bersinergi untuk membangun pendidikan di atas fondasi nilai-nilai Alquran, seiring dengan era globalisasi.(65)