image

Kepodang Emas

29 Maret 2018 | Spektrum

Kebesaran Si Burung Pesolek

TIAP-TIAPprovinsi di Indonesia memiliki fauna identitas yang mencerminkan keberagaman hayati di daerahnya. Pilihan fauna tersebut didasarkan pada hewan tersebut endemik, khas di provinsi itu, atau mungkin memiliki filosofi tertentu.

Provinsi Jawa Tengah memilih kepodang emas sebagai maskot atau identitasnya. Selain memiliki karakteristik yang menarik, burung ini juga mengandung nilai-nilai filosofi yang selaras dengan budaya Jawa. Menurut Wikipedia, kepodang adalah burung berkicau yang memiliki nama latin Oriolus chinensis dan termasuk dalam famili oriolus. Burung ini juga terkenal sebagai burung pesolek yang selalu tampil cantik, rapi, dan bersih termasuk dalam membuat sarang.

Kepodang juga dikenal dengan sebutan manuk pitu wolu karena bunyinya yang nyaring mirip dengan ucapan pitu-wolu (tujuh delapan). Masyarakat Sunda biasa menyebut burung ini dengan bincarung. Adapun beberapa daerah di Sumatera menyebutnya gantialuh dan masyarakat di Sulawesi menyebut gulalahe. Burung kepodang dalam bahasa Inggris sering disebut dengan black naped oriole.

Di Malaysia disebut burung kunyit besar. Selain mempunyai ocehan yang sangat keras dan nyaring, kepodang juga pandai menirukan suara burung ciblek, prenjak, penthet bahkan suara burung raja udang. Ciri-ciri burung ini adalah memiliki paruh berwarna merah muda atau pink, kemudian di bagian pangkal paruh dan di atas kepala berwarna kuning.

Pada bagian matanya terdapat bulu berwarna hitam tampak seperti kacamata ninja. Selain itu, mulai dari pangkal tenggorokan, kepala bagian belakang, leher, dada, perut, di bawah ekor, dan sebagian punggung berwarna kuning terang. Di ujung sayap dan ekor burung ini berwarna hitam. Dikutip dari laman biodiversitywarriors.org, sulit untuk membedakan bentuk fisik antara kepodang jantan dan betina. Meski demikian, perbedaan yang mendasar terdapat pada warna bulu.

Pada burung jantan berwarna kuning terang, sedangkan pada burung betina lebih buram dengan punggungnya yang berwarna kuning zaitun. Makanan utama kepodang adalah buah-buahan seperti pisang dan pepaya. Mereka juga memakan biji-bijian dan serangga-serangga kecil, seperti ulat maupun kepompong. Penyebaran burung kepodang hampir di seluruh wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, dengan wilayah sebaran meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Filosofi dan Mitos

Adapun kepodang emas adalah nama yang diberikan kepada burung kepodang apabila sudah memasuki usia dewasa sekitar 1.5 tahun atau lebih. Kepodang emas atau dalam bahasa latin bernama Oriolus chinensis memiliki ciri utama yaitu bulu berwarna kuning keemasan dengan corak hitam di kepala. Paruh burung ini memanjang dan berwarna putih seperti gading dengan panjang badan mencapai 25 sentimeter dari paruh hingga ekornya.

Burung kepodang yang masih muda memiliki warna yang lebih gelap dan disebut kepodang batu. Bulu-bulu kepodang batu yang berwarna gelap akan rontok dan berganti menjadi bulu berwarna kuning yang semakin jelas dan terang saat dewasa. Fase ini disebut dengan kepodang kapur, karena warnanya menyerupai kapur.

Perubahan warna burung kepodang masih berlanjut hingga menjadi warna keemasan yang disebut sebagai kepodang emas. Ini muncul setelah burung tersebut berusia 1,5 tahun. Kepodang emas sering dipelihara sebagai burung hias yang harganya cukup mahal dan kini jumlahnya sudah langka. Burung jenis ini memiliki bulu yang sangat indah dan rapi serta tampilannya yang selalu ”jaim” dan terlihat bersih dan telitian dalam membuat sarang karena itulah kemudian memunculkan beberapa mitos.

Mitos yang berkembang menyebutkan burung ini dianggap mampu memberikan hal positif bagi para ibu hamil. Pada tradisi mitoni tujuh bulan masa kehamilan, terdapat ritual yang dipercaya apabila seorang calon ibu mengonsumsi daging burung kepodang yang telah disembelih dan dimasak, maka calon ibu/orang tua tersebut diyakini kelak akan mendapatkan keturunan yang cantik dan tampan.

Adapun masyarakat Sunda (Jawa Barat) percaya kepodang sebagai burung ”tolak bala”. Mitos yang berkembang menyebutkan apabila dalam satu rumah memelihara burung kepodang, konon pemiliknya akan dijauhkan dari segala kesialan atau malapetaka. Meski banyak mitos yang berkembang terhadap burung ini, namun burung kepodang memiliki pemaknaan dan filosofi yang baik khususnya bagi masyarakat Jawa Tengah.

Berdasarkan sumber informasi yang didapat, burung kepodang melambangkan kekompakan, keselarasan dan keindahan budi pekerti sekaligus juga melambangkan anak atau generasi muda. Lantaran nilai-nilai filosofi yang selaras dengan budaya Jawa, burung istimewa ini kemudian ditetapkan sebagai fauna identitas Provinsi Jawa Tengah.(23)

SMCETAK TERKINI