image

SM/Antara - LEPAS ELANG JAWA: Seorang anggota komunitas Kutilang melepaskan Elang Jawa (Spizaetus Bartelsi) di Gunung Merapi dari ketinggian 1.250 meter, di Yogyakarta, belum lama ini. (23)

29 Maret 2018 | Spektrum

ANCAMAN KEPUNAHAN terhadap Tiga Satwa

ELANG JAWA, owa jawa, badak jawa, kijang jawa...Anak-anak zaman sekarang sebagian besar mungkin hanya mendengar namanya atau melihat gambarnya namun belum pernah tahu binatang aslinya. Binatang-binatang endemik tersebut memang termasuk fauna langka yang hampir punah sehingga perlu dilindungi.

Di Jawa Tengah, saat ini terdapat tiga satwa dilindungi yang kondisinya nyaris punah yakni owa jawa (Hylobates moloch), elang jawa (Nisaetus bartelsi) dan macan tutul jawa (Panthera pardus melas).

Jenis satwa yang hampir punah itu, di Indonesia diklasifikasikan sebagai satwa yang dilindungi yakni jenisjenisnya ada di lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dari jenis yg dilindungi sekitar 190-an satwa itu, telah ditetapkan 25 jenis yang terancam punah. Dari 25 jenis spesies terancam punah itu, tiga di antaranya hidup di wilayah habitat alam Jawa Tengah.

Shokhib Abdillah, koordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Tengah, mengatakan dalam rangka mempertahankan kelestariannya bahkan dapat meningkatkan populasinya, balai telah menetapkan beberapa lokasi pengawasan berupa hutan lindung dan kawasan konservasi.

Lokasi itu yakni hutan lindung Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dengan habitat elang jawa dan owa jawa, hutan lindung Linggosari Pekalongan dengan habitat owa jawa, hutan lindung Gunung Selamet Banyumas dengan habitat elang jawa dan cagar alam Nusakambangan Barat Cilacap sebagai habitat macan tutul jawa .

Dalam pengawasan tersebut, BKSDA Jateng telah melaksanakan inventarisasi dan memonitor populasi satwa itu setahun sekali. Kemudian, menyosialisasikan kepada masyarakat terhadap keberadaan satwa itu terkait pentingnya untuk membantu melestarikannya serta menyampaikan aturan-aturan tentang larangan perburuan satwa dilindungi. ”Kami juga nembentuk forum kolaborasi peduli pelestarian satwa dengan melibatkan instansi terkait, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi di sekitar lokasi,” ungkap Shokhib, Rabu (28/3).

Permudah Izin Penangkaran

Dijelaskannya, untuk satwa dilindungi yang belum masuk kategori terancam punah, BKSDA Jateng membuat kebijakan untuk membantu dan mempermudah izin penangkaran satwa oleh masyarakat. Di antaranya satwa seperti jenis burung jalak bali (Leucopsar rothschildi), jalak putih (Acridotheres melanopterus), berbagai burung paruh bengkok, rusa (Cervidae), kijang (Muntiacus) dan lainnya.

”Supaya hasil anakannya bisa dimanfaatkan dan diperjualbelikan secara legal dan dapat mengurangi perburuan di alam, jadi kami permudah izinnya,” kata dia. Untuk menjaga kelestarian satwa dilindungi yang terancam punah dan belum terancam punah, dia meminta kepada masyarakat untuk tidak berburu, memelihara atau memperjualbelikan satwa dan bagian-bagian satwa yang dilindungi tanpa izin yang sah. Kemudian, membantu pengamanan habitat alami sebagai tempat hidup satwa.

Lalu, apabila punya keinginan untuk memelihara satwa, agar memperolehnya dari unit-unit penangkaran satwa yang legal. Dan dapat berpartisipasi melestarikan satwa langka melalui izin penangkaran yang dapat dimohonkan dengan mudah pada instansinya. ”Di Jateng ada sekitar 300 unit penangkaran yang legal. Satwa bisa diperoleh dari sana. Jadi hentikan perburuan dan jaga habibat asli satwa dilindungi,” imbuh dia.(23)

SMCETAK TERKINI