image
01 April 2018 | Arsitektur

Arsitektur Zaman Sekarang

  • Oleh Totok Roesmanto

KAVELINGhunian minimal 120 m2 ditetapkan untuk Mijen dan Gunungpati, Semarang, berluas bangunan 40% tidak boleh melebihi 48 m2. Di kaveling 8 x 16m bangunan tidak melebihi 51,20 m2. Dengan ruang tidur orang tua 9 m2, ruang tidur anak 9 m2, ruang tamu + keluarga 12 m2, dapur + kamar mandi WC 8 m2, teras depan 3 m2 seluas 41 m2 sangatlah ideal, 32?ri luas kaveling. Luasan parkir mobil 15 m2. Jadi kaveling yang tergunakan 57 m2.

Apalagi jika ruang terbuka di belakang rumah direkayasa jadi bangunan tingkat. Rumah ideal yang disiapkan real estat berubah jadi bangunan padat tanpa ruang terbuka. Idealnya ruang terbuka yang meresapkan air ke tanah 20?ri kaveling 128 m2, sekitar 25,6 m2. Kondisi itu ditemui di banyak rumah ideal tipe kecil yang menjanjikan ke pemilik dapat mengekspansi lahan belakang. Hunian ideal sekitar 30?ri luas kaveling, lebih besar dari rumah tradisional yang 25% luas kaveling.

Pada kaveling 8 x 16 m idealnya berdiri bangunan 38,4 m2. Jika bertambah perkerasan parkir mobil menjadi 53,4 m2 seharusnya luas kaveling 10/3 kali, atau 178 m2. Rumah tipe kecil ramah lingkungan idealnya berdiri di dua kaveling 8 x 16 m (gambar 12). Bangunan hunian wall to wall seharusnya perlu jarak dari tetangga untuk memudahkan penanggulangan bila terjadi kebakaran. Ruang terbuka hijau yang harus ada di setiap kaveling hunian tak berwujud deretan pot bunga, tetapi ruang terbuka yang meresapkan air ke tanah. Taman publik biasanya hanya pemenuhan resl estat menyediakan 20% kawasan untuk ruang terbuka hijau.

Ruang terbuka yang berfungsi komunal untuk publik dan ada di setiap hunian di perbukitan seperti Mijen dan Gunungpati ditetapkan 60% luas kawasan. Pohon yang cukup rindang perlu di lingkungan itu.

Bukan berarti penghutanan lingkungan, tetapi agar hunian yang telah dirancang ideal tidak menimbulkan dampak lingkungan permukiman yang memadat pada zaman now.Arsitektur now sering abai terhadap luas bangunan di kavelingnya.

Kemampuan Konstuksi

Penaung jendela dari pelat beton tipis selebar bidang jendela kaca masih digemari pada zaman now. Tak cukup menjorok ke luar karena keterbatasan kemampuan konstruksi, dampaknya air hujan tempias dari depan dan samping. Untuk mengatasi tempias dari samping, pelat beton dibuat membingkai yang dikombinasikan dengan dinding pejal sebagai selimut almari built in.

Meski kemudian diperoleh balkon yang jarang digunakan. Arsitektur dari kombinasi fasad Schroder House De Stijl-nya Gerrit Rietveld (1924) dan Limoges Concert Hall-nya Bernard Tschumi (2007). Beberapa bangunan, biasanya restoran, dilengkapi fasad bergaya ranting pohon, beride Bird’s Nest Deconstructivist-nya Herzoq & Meuron (2008) setelah Tod’s Omotesando-nya Toyo Ito (2004). Kesadaran terhadap hujan sebagai penyebab atap bocor disiasati dengan pemilihan bentuk atap yang sederhana, direspons dengan pengembangan bentukan jengki dari arsitektur modern versi Indonesia, dikombinasi permainan bentukan geometris dan penempatan bidang kaca yang ternaungi. Dengan atap bergaya pabrik ala Tschumi bidang vertikal dari tanaman di sisi barat difungsikan sebagai penapis sinar matahari sore. Vegetasi dihadirkan dengan sangat tepat di Hotel Alila yang tersusun seperti gubahan balok dan kubus batu.(63)

— Totok Roesmanto, Dewan Penasihat IAI Daerah Jawa Tengah