image
08 April 2018 | Bincang-bincang

Mudjahirin Thohir: Agama-agama Semestinya Mengindahkan Kehidupan

Negeri kita sungguh majemuk: bersuku-suku, beragam agama dan keyakinan, beraneka subkultur dan adat-istiadat. Namun itu bisa jadi penyebab disintegrasi, perpecahan, ketika disikapi sebagai perbedaan yang ”harus” dilebur, diseragamkan. Bagaimana mengelolanya sebagai modal sosial? Berikut perbincangan wartawanSuara MerdekaGunawan Budi Susantodengan pegiat Forum Kerukunan Umat BeragamaProf Dr Mudjahirin Thohir MA.

Bagaimana Anda memandang keragaman dan perbedaan di negara kita?

Sebagai karunia atau bencana? Sebagai orang beragama, keragaman dan perbedaan kami pandang sebagai sunnatullah. Karena itu, kita perlu menemukan pesan ilahiah untuk bisa mensyukuri karunia di balik kehendak Allah itu.

Bagaimana seyogianya kita mengelola keragaman dan perbedaan, terutama dalam keyakinan dan penghayatan keberagamaan, dalam kehidupan bersama sebagai suatu bangsa, sebagai negara?

Pertama, butuh pemahaman bahwa setiap pemeluk meyakini agamanya pasti benar. Jika saya muslim, itu berarti Islam benar bagi saya. Begitu pula umat Hindu, misalnya, akan meyakini agama Hindu benar. Begitu seterusnya. Itu berarti agama itu benar bagi internal pemeluk, sehingga jangan memaksakan pada orang yang berada di luar.

Kedua, agama yang kita pilih - meminjam istilah Gus Mus - sebagai wasilah (sarana), bukan ghoyah (tujuan). Agama sarana beribadah dan bermuamalah untuk memperbaiki akhlak hidup bersama dalam kemajemukan. Dari sini kita menjadi mengerti, jika seseorang jahat, misalnya, itu bukan karena ajaran agamanya, melainkan orang itu sedang mengingkari ajaran agamanya.

Ketiga, dalam konteks berbangsa dan bernegara, seharusnya setiap pemeluk agama menyumbangkan kebaikan berdasar ajaran agamanya untuk kehidupan bersama sebagai warga negara. Persaingan inter dan antarpemeluk agama dianjurkan dalam konteks kebaikan, bukan kegaduhan atau kerusuhan.

Belakangan muncul intoleransi dalam kehidupan bersama. Berkembang pandangan dan sikap yang menekankan kekamian, bukan kekitaan. Bagaimana menyikapi dan menangkal kecenderungan itu?

Ada dua domain penjelasan, dari sisi keagamaan dan sosial. Dari sisi keagamaan, sikap intoleransi umumnya karena orang memahami agama secara tekstual. Akibatnya, dia menganggap apa saja yang tidak disebut dalam kitab sucinya sebagai bidah dholalah, bertentangan dengan ajaran agama. Padahal, secara kontekstual, amal atau tindakan yang tidak ada larangan dalam teks berarti bidah hasanah, tradisi yang baik. Jadi beragama butuh pemahaman luas.

Kalau berpandangan sempit, biasanya melihat ajaran agama lain dengan sebelah mata (etic perspective). Istilah orang Jawa, mengukur baju orang dengan baju sendiri. Dari sudut itu lantas beranggapan yang berbeda dari pandangannya adalah salah. Menjadi lebih bahaya lagi jika sebutan ”salah” itu ditarik ke ranah agama untuk dibaca sebagai tindakan kemungkaran.

Tugas umat, terutama para tokoh agama, dalam konteks hidup bersama di masyarakat yang plural ini adalah perlu mengajarkan agama ke dalam dua dimensi secara seimbang, yaitu dimensi ilahiah dan dimensi insaniah. Lewat pemahaman seimbang itulah akan lahir roh ukhuwah (persaudaraan). Roh ukhuwah mewujud dalam empat domain, yaitu ukhuwah mahluqiyah, ukhuwah insaniah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah diniyah. Agar terwujud ukhuwah, perlu membiasakan diri silaturahmi dialogis lintas pemeluk agama, yaitu dialog kehidupan, dialog kekaryaan, dan dialog keagamaan dalam konteks peran sosial yang bisa diwujudkan untuk memperbaiki kehidupan bersama.

Anda terlibat aktif dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Apa yang dikerjakan forum itu untuk membangun dan membina kerukunan antarumat, antariman?

Secara ideal, FKUB sebagai organisasi sosial keagamaan yang beranggota para tokoh agama dari perwakilan majelismajelis keagamaan, bisa mendesain bagaimana agama menjadi pencerah dan sarana bagi umat masing-masing untuk hidup bersama dalam pluralitas. FKUB menawarkan pemahaman: beda itu indah dan bagaimana setiap umat menemukan keindahan di balik perbedaan. Itu berarti, bagaimana memosisikan umat lain sebagai saudara. Dan, pada saat yang sama, merasakan persaudaraan itu sebagai ekspresi keimanan keagamaan.

FKUB semula hanya ada di setiap provinsi serta kabupaten/ kota seluruh Indonesia. Karena itulah, FKUB Jawa Tengah pada akhir 2014 membuat terobosan: menginisisasi Konferensi I Nasional FKUB Se-Indonesia di Semarang. Ada beberapa hasil penting konferensi nasional itu. Pertama, menemukenali dinamika keagamaan di setiap daerah sekaligus merumuskan konstruksi kedewasaan beragama di Indonesia. Kedua, kesepakatan mengadakan annual meeting (konferensi nasional FKUB setiap tahun) secara bergilir di provinsi-provinsi di Indonesia. Ketiga, membentuk Asosiasi FKUB Se-Indonesia.

Di luar itu, kegiatan FKUB, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota, masih menghadapi berbagai keterbatasan. Ada saja kawan anggota FKUB yang mengeluh, ”Kok pemerintah memakai FKUB sebagai alat pemadam kebakaran saja?” Menghadapi keluhan itu, saya sering menjawab santai, ”Mending masih jadi pemadam. Bagaimana pula jika kita sudah terbakar, apalagi ikut-ikutan membakar? Apa yang akan terjadi pada Indonesia ke depan?”

Macam apa saja kegiatan yang dilakukan?

Apa, siapa, kewajiban dan peran apa, termasuk kegiatan FKUB secara formal, sudah diatur dalam buku pedoman. Namun poin penting yang perlu saya sampaikan, kegiatan FKUB sangat dipengaruhi oleh kreativitas pengurus di daerah masing-masing, termasuk bagaimana pemahaman dan penghormatan kepala daerah masing-masing. Kami melakukan dialog lintas agama, koordinasi antar-FKUB se- Jawa Tengah, dan terlibat penyelesaian masalah dalam konteks keagamaan merupakan aktivitas umum FKUB di setiap daerah. Bahkan FKUB Jawa Tengah, termasuk sebagian FKUB kabupaten/kota, sudah membentuk atau mendirikan FKUB Muda, selain paguyuban lintas agama di tingkat kecamatan dan desa.

Apa kendala terberat yang mesti diatasi? Apa pula jalan yang ditempuh untuk meretas kendala itu?

Bagi aktivis yang merindukan agar agama menjadi pencerah dan pendamai bagi setiap pemeluk, istilah yang lebih cocok bukan kendala, melainkan tantangan. Dan, tantangan untuk mewujudkan adalah bagaimana majelis keagamaan, termasuk tokoh agama, bekerja sama dengan FKUB. Persoalan yang sering muncul dalam konteks kehidupan keagamaan adalah overlapping (tumpang-tindih) antara kepentingan agama dan kepentingan umat beragama. Artinya, kepentingan umat dinisbatkan sebagai kepentingan agama. Pola itu mudah muncul ketika umat larut dan dibawa larut memasuki kompetisi memperebutkan kekuasaan. Biasanya di ranah politik praktis.

Dalam kondisi begitu, agama yang semestinya mengindahkan kehidupan, justru terasa memperburuk keadaan. Bukan agamanya, melainkan manusianya yang membawabawa.

Apa harapan Anda bagi tumbuh-kembang sikap toleransi dan saling pengertian antarumat beragama?

Toleransi akan berjalan baik, senapas dengan kesanggupan kita memahami dan menjalankan agama dalam dua dimensi, yaitu teologis dan antropologis secara proporsional.

Apa mimpi Anda bagi kehidupan bersama?

Mimpi saya banyak, antara lain setiap kepala daerah, baik gubernur, bupati, maupun wali kota, sanggup membangun rumah ibadah keagamaan dari agama berbeda-beda di satu lokasi yang luas dan strategis. Jadi setiap umat bisa beribadah, berefleksi, berkontemplasi, dan sekaligus memudahkan mereka berdialog soal tanggung jawab umat beragama kepada bangsa dan negara. (44)

SMCETAK TERKINI