13 April 2018 | Edukasia

14 PKM UPGRIS Bersaing Menuju Pimnas

SEMARANG- Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) meloloskan 14 tim atau proposal program kreativitas mahasiswa (PKM). Proposal penelitian ini nantinya mendapat dana hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Tecatat ada 48 mahasiswa yang terbagi ke dalam 14 tim tersebut.

Mereka selanjutnya akan diseleksi kembali untuk diikutkan dalam ajang pekan ilmiah mahasiswa nasional (Pimnas) 2018 di Yogyakarta. Rektor UPGRIS, Muhdi mengungkapkan, pencapaian ini menempatkan universitasnya masuk dalam lima besar perguruan tinggi swasta se-Jateng yang banyak meloloskan proposal. Sementara, untuk tingkat perguruan tinggi negeri dan swasta, UPGRIS masuk dalam 10 besar.

Kami mengapresiasi mahasiswa yang lolos pada tahun ini. Tantangannya sekarang harus bisa tembus di Pimnas dan kami menargetkan pada ajang ini sebaik mungkin. Di Jateng kami masih masuk 5-10 besar, sedangkan nasional 50 besar,” kata Muhdi usai memberikan pengarahan kepada mahasiswa yang tergabung dalam tim PKM di UPGRIS, Kamis (12/4).

Diakui, untuk tingkat Jateng, sejauh ini Universitas Diponegoro (Undip) masih dominan sebagai perguruan tinggi dengan banyak meloloskan proposal PKM-nya. Adapun untuk perguruan tinggi swasta, didominasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kedua universitas itu memiliki jumlah mahasiswa yang lebih banyak, sehingga peluang untuk lolos pun juga lebih besar. “Secara nasional pun sudah bagus.

Separo dari proposal yang lolos adalah dari Jateng. Kami sebetulnya punya potensi lebih dari itu. Maka koordinasi ini penting untuk mempersiapkan dana hibah PKM itu agar bisa terimplementasi dengan baik,” ujarnya. Muhdi mengapresiasi pencapaian tahun ini, yang dipandang lebih baik dibanding 2017 lalu. Kendati demikian, esensi terpenting yang diperoleh mahasiswa dalam ajang ini adalah proses akademik. Mahasiswa diharapkan memperoleh karakter dan soft skill yang bisa dipetik dari proses itu.

“Yang paling penting untuk mahaiswa sebenarnya adalah pengalaman berproses akademik, mulai mereka merancang ide proposal hingga implementasinya. Tidak ada yang instan, semuanya butuh proses, semangat juang, kesabaran dan keuletan,” jelasnya.(ftp-42)