15 April 2018 | Bincang-bincang

GAYENG BARENG

Kiamat, Kiamat, Ya Kiamat

  • Oleh Abu Su'ud

ASSALAMU’ALAIKUM  Warahmatullahi Wabarakatuh. Dalam bahasa asli, yaitu Arab, kata ”kiamat” berasal dari kata ”qiyam” yang berarti berdiri atau bangkit. Maksud asli dalam ajaran Islam tentang kiamat adalah hari kebangkitan. Itulah hari ketika seluruh umat manusia yang telah terkubur dibangkitkan kembali oleh sang Pencipta.

Saat itulah, manusia harus menghadapi pengadilan, yang biasa dikenal sebagai The Last Judgement. Jadi manusia bisa menerima akibat atau risiko dari semua perbuatan selama hidup: apakah mendapat kenikmatan surga atau siksa di neraka.

Di masyarakat Islam ternyata kata ”kiamat” lebih diartikan sebagai kehancuran. Jadi hari kiamat adalah hari kehancuran semua ciptaan Tuhan. Itu bisa kita lihat dalam berbagai surah di Alquran, antara lain Surah Al-Qariah dan Al-Waqiah. Lalu, manakah yang benar? Saya jadi tambah pusingÖ.

Jika kiamat dimaksudkan sebagai kehancuran, saya ingat teori sejarawan terkenal Arnold Toynbee tentang tahap-tahap pada setiap sejarah atau setiap komunitas manusia: born (lahir), growth (tumbuh), golden ages (zaman Keemasan), breakdown (pecah atau hancur), dan disintegration (disintegrasi).

Jadi bukan hal aneh jika orang berbicara tentang kehancuran sebuah negeri bisa berwujud disintegrasi bangsa atau kehancuran (breakdown) sebuah kekuasaan (disintegration).

Artinya, apa yang disebutkan Prabowo Subianto tentang Indonesia kiamat tahun 2030 bisa saja terjadi. Ungkapan yang menggegerkan dari Prabowo Subianto sebagai orang politik itu tampaknya berdasar novel politik Ghost Fleet karya PW Singer dan August Cole yang terbit 2015.

***

PADA  awal 1980-an, saya pernah membahas buku ramalan tentang kiamat berjudul 1986karya HG Wells. Jadi ramalannya hanyalah omong kosong karena ketika 1986 hadir, saya justru sedang menghadapi ujian doktor. Jadi tidaklah salah jika orang bilang bencana yang bernama kiamat pernah terjadi pada peradaban-peradaban lampau dan selalu menghantui akan kedatangan kehancuran pada masa lampau.

Misalnya, kehancurn peradaban Atlantis, yang diduga membentang antara Benua Amerika dan Eropa, yang telah tenggelam. Cerita tentang kehancuran negeri Atlantis merupakan bagian dari sedemikian banyak kisah mengenai kiamat kecil yang menimpa sekelompok manusia (kiamat sughra).

Di dalam kitab sucikitab suci, kita mengenal contoh kiamat kecil, seperti mengenai kehancuran masyarakat Sodom dan Gomoro atau kehancuran negeri Tsamud. Sementara itu, yang dimaksud kiamat besar atau kiamat (kiamat kubra) sangat sulit dipahami atau dimengerti dengan tepat kapan terjadi.

Dengan menggunakan konsep Toynbee tentang tahapan-tahapan perjalanan sebuah peradaban atau suatu pusat kekuasaan, Indonesia bisa mengalami beberapa kali kiamat sughra. Misalnya, ada kiamat peradaban Mataram Hindu, disusul kiamat peradaban Majapahit, dan disusul pula oleh peradaban Mataram Islam.

Dan, jauh sebelum itu, pernah terjadi pula kiamat kecil peradaban Sriwijaya. Kiamat-kiamat kecil seperti itu pernah menimpa masyarakat di Benua Asia (Selatan). Misalnya, kehancuran peradaban Moheinjo Daro atau Harapa, dua peradaban India kuno pada 1500-an sebelum Masehi.

Menurut kajian arkeologi, kehancuran peradaban itu bukan karena ulah manusia, melainkan bencana alam. Jika mau menukik lebih khusus ke dalam sejarah modern Indonesia pun, kita pernah mengalami kiamat kecil berupa pergantian struktur pemerintahan sesuai dengan undang-undang dasar yang berlaku.

Karena itu, kita ikuti saja perjalanan sejarah Indonesia yang selalu mengikuti irama patah tumbuh hilang berganti, tidak usah mengkhawatirkan bakal terjadi kiamat besar pada 2030. Paling-paling ya kiamat kecil lagi. Nanti bakal disusul masa pertumbuhan atau tahapan pertumbuhan seperti yang dimaksud teori Toynbee.

Bagaimana kenyataannya? Ya, wallahu’alam. Sampun nggih. Mudahmudahan saya masih bisa meneruskan kisah-kisah mengenai kiamat kecil ini lewat rubrik ”Gayeng Bareng”. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(44)

SMCETAK TERKINI