16 April 2018 | Internasional

Myanmar Pulangkan Keluarga Pertama Rohingya

YANGON- Keluarga pertama dari sekitar 700.000 warga muslim Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh telah dipulangkan oleh Pemerintah Myanmar ke Negara Bagian Rakhine, Minggu (15/4).

Myanmar menerima kembali kelima orang anggota keluarga itu kendati ada peringatan dari PBB bahwa kondisi di Rakhine belum aman untuk proses repatriasi para pengungsi. "Lima orang pertama yang dipulangkan itu merupakan satu keluarga.

Mereka dipulangkan ke Desa Taungpyoletwei di Rakhine pagi ini," bunyi pernyataan yang diunggah di akun resmi Facebook milik Komite Informasi Myanmar. Satu keluarga itu terdiri atas satu pria dewasa, dua perempuan, dan dua anak. Terdapat foto yang memperlihatkan mereka sedang menjalani cek kesehatan dan menerima kartu identitas.

Ratusan ribu warga muslim Rohingya melarikan diri dari kampung halaman mereka di Rakhine dan ditampung di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, menyusul kekerasan militer pada Agustus 2017 yang oleh PBB disebut sebagai aksi pembersihan etnis. Sebagian besar pengungsi menolak dipulangkan sebelum mereka mendapat jaminan soal hak-hak sipil dan status kewarganegaraan mereka.

Kartu Identitas Sementara

Keluarga pertama yang dipulangkan pada Minggu (15/4) tersebut diberi Kartu Verifikasi Nasional. Kartu identitas sementara itu ditolak para pemuka Rohingya karena mereka menginginkan hak status kewarganegaraan penuh. Meski belum disebutkan rencana berikutnya bagi keluarga ini, pernyataan di Facebook tersebut menyebut keluarga ini tinggal sementara di rumah kerabat di Maungdaw sebelum ke Taungpyoletwei.

Seharusnya Bangladesh dan Myanmar mulai memulangkan para pengungsi pada Januari lalu. Rencana itu urung dilakukan karena kedua belah pihak saling menyalahkan soal persiapan yang masih kurang. Beberapa pihak khawatir mengenai proses repatriasi tersebut karena belum ada jaminan keamanan dari pemerintah.

Di antaranya adalah PBB dan Amnesty International. Menurut mereka, rencana repatriasi pengungsi Rohingya membuat mereka yang dipulangkan berisiko mengalami serangan dari pihak-pihak yang tidak senang karena belum ada jaminan keamanan. Pada Sabtu lalu, UNHCR menyatakan bahwa kondisi di Rakhine "belum kondusif bagi pemulangan pengungsi".

Fotofoto satelit yang dipublikasikan Amnesty International memperlihatkan banyak desa Rohingya dibuldozer dan dibangun instalasi militer di sejumlah lokasi.(sky,cnn-sep-25)

SMCETAK TERKINI