image

SM/Dian Aprilianingrum - SAJIAN TARI : Salah satu sajian tari dalam Banyumas Extravaganza, di Jalan Jendral Soedirman Purwokerto, Minggu (15/4).(19)

17 April 2018 | Suara Banyumas

Karnaval Meriah, Penonton Sulit Diatur

PURWOKERTO-Meski berlangsung meriah namun penonton ajang Banyumas Extravaganza 2018 yang digelar Minggu (15/4) tetap sulit diatur. Puluhan pengunjung tetap menerobos barikade yang sudah disiapkan panitia di bagian timur panggung kehormatan.

Dari pantauan Suara Merdeka, ribuan pengunjung menyemut sejak pukul 09.00. Mereka memenuhi jalur karnaval di Jalan Jenderal Soedirman. "Sampai di timur Alun-alun Purwokerto, penonton menyemut. Akibatnya jalur peserta karnaval semakin sempit," kata salah satu penonton, Ilham Bustomi. Menurut Ilham, pihak keamanan dianggap kurang tegas. Sehingga penonton semakin berani masuk ke depan panggung kehormatan, tempat para peserta melakukan atraksi.

"Event ini sebenarnya bagus, karena konsepnya berbeda dari tahun lalu. Tapi karena penonton kurang tertib di timur Alun-alun, akhirnya jadi semrawut," tambahnya. Adapun perhelatan ini diikuti oleh 70 kelompok dari tiga kategori yakni, pelajar, perwakilan kecamatan serta kalangan usaha dan masyarakat umum. Mereka membawakan pawai kostum pesona Batik Banyumas bertema alam, serta cerita rakyat.

Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata, Suwondo Geni mengatakan, kesuksesan sebuah atraksi wisata dilihat dari peran aktif tiga komponen, yaitu panitia, peserta serta penonton. Baik buruknya kualitas maupun kuantitas sebuah event wisata tidak hanya dilihat dari kinerja panitia. "Tahun ini sebenarnya lebih baik dibanding tahun lalu.

Jalur keluar peserta di barat Alun-alun sudah diantisipasi agar tidak dimasuki penonton, tapi rombongan penonton yang datang dari arah timur sulit diantisipasi," ujarnya. Suwondo mengatakan, untuk penyelenggaraan ketujuh, panitia sudah berusaha profesional. Selain menyoroti penonton, dia berencana mengubah konsep karnaval tersebut.

Khusus untuk penampil dari perwakilan kecamatan akan diarahkan untuk menggarap koreografi pementasan. "Temanya mengangkat cerita rakyat sebenarnya sudah pas. Tapi lebih banyak yang menampilkan dialog bukan koreografi. Waktu untuk tampil satu menit tidak cukup. Lain waktu, kami akan buat festival cerita rakyat sendiri," jelasnya.(K35-19)

SMCETAK TERKINI