17 April 2018 | Fokus Jateng

Perempuan Berkebaya Djokja Dilatih Pencak Silat

YOGYAKARTA- Sejumlah perempuan berkebaya berlatih pencak silat di halaman pendapa Latvia Sleman, Minggu (15/4). Sebagian berlatih beladiri tangan kosong, sebagian lagi melepaskan cengkeraman dan jepitan lawan, dan yang lainnya berlatih menghadapi lawan yang membawa senjata tajam maupun senjata api.

Pelatih Aris Suhartanto, mengajarkan langkah praktis women self defence kepada anggota komuniatas Perempuan Berkebaya Djokja. ”Beladiri yang paling cocok untuk orang Indonesia adalah pencak silat,” jelas Aris memulai pelajarannya. Menurutnya, gerakan gerakan pencak silat dikembangkan dari pola laku manusia Indonesia.

”Gerakan gerakan pencak silat berbeda dari gerakan karate, karena dikembangkan dari pola laku yang khas Indonesia,” imbuhnya. Pencak Kebaya adalah sesrawungan dua komunitas budaya, yaitu Tangtungan Project yang mengemban pelestarian seni beladiri Pencak Silat dan Perempuan Berkebaya yang memetri budaya nusantara melalui cara berpakaian.

Nasarius Sudaryono penggiat seni yang menjadi inisiator acara ini mengatakan, ”Selama ini perempuan dipersepsikan lemah sehingga sering menjadi sasaran kejahatan, dengan membangun sesrawungan semacam ini diharapkan dapat membangun persepsi baru, bahwa perempuan itu terlampau tangguh, untuk dipersepsikan sebagai manusia dapur.”

Pencak Kebaya adalah seni beladiri bertema. Dalam keterbatasan gerak saat berkebaya, apa yang dapat dilakukan perempuan ketika menghadapi ancaman. ”Kami kembangkan seni beladiri bertema yang rasional, logis, dan aman,” sambung pelatih Aris.

Tinuk Suhartini, inisiator pendiri Perempuan Berkebaya Djokja mengatakan, Women Self Defence semacam ini penting sekali bagi mereka. ‘’Perkembangan situasi keamanan di jalan saat ini tidak dapat diramalkan, dalam keterbatasannya, perempuan harus mampu mengatasinya,’’ imbuh wanita yang setiap hari berkantor dengan berbusana kebaya itu.

Cita Rasa Indonesia

Bertempat di Joglo Latvia yang asri, dengan rerumputan hijau sebagai matras dan sejumlah pohon yang merindanginya, menjadikan Pencak Kebaya lekat dalam citarasa Indonesia. ”Ini bukan sekadar latihan beladiri, lebih dari itu, ini sebuah peristiwa budaya,” ucap Irma salah satu peserta Pencak Kebaya.

Kerja sama budaya antara para pendekar silat yang bergabung dalam Tangtungan Project dengan komunitas Perempuan Berkebaya ini menciptakan genre baru seni pertahankan diri. Dua komunitas nonprofit ini sadar betul pentingnya jalinan- jalinan baru dalam memperkukkuh pilar kebudayaan nusantara.

Dan mereka bahu membahu untuk mewujudkannya. Genre baru yang dipelajari dalam Pencak Kebaya ini di antaranya adalah bagaimana melumpuhkan lawan supaya tersedia banyak waktu untuk mencari bantuan. Perempuan kadang tidak terlalu kuat untuk melawan tenaga laki laki.

”Ada teknik tertentu, yang bisa dipraktikkan agar tersedia lebih banyak waktu untuk mencari pertolongan,” jelas pelatih Aris. Dikatakan, Aris juga membekali teman-teman Perempuan Berkebaya ini untuk membedakan apakah senjata api yang dipakai untuk mengancam asli atau palsu. ”Jika asli langkahnya apa, jika ternyata palsu harus bagaimana,” lanjutnya.

Ternyata seni beladiri tidak boleh berhenti tumbuh, karena jenis ancaman, modus kejahatan, dan teknologi yang digunakan terus bertumbuh. Pertumbuhan seni beladiri bisa dieksplorasi ketika terbentuk jaringan-jaringan baru semacam Pencak kebaya ini.(H14- 59)