17 April 2018 | Solo Metro

Saat Kelompok Teater Garap Anak-Anak

ANAK-ANAKmemang sering menjadi objek menarik untuk diunggah. Demikian juga ketika mereka diajak mengenal dan tampil pada pertunjukkan teater modern yang kini tampak menggeliat di Solo.

Hadirnya teater di Solo makin lengkap dengan adanya teater bocah yang dilakukan sejumlah kelompok teater atau seni. Kehadiran mereka seakan menunjukkan upaya regenerasi penggiat teater setelah tampilnya teatrawan senior, siswa dan mahasiswa kini mulai diusung anak-anak untuk menampilkan kemampuan beraktingnya. Ada kelompok teater yang mulai menggarap potensi anak-anak di dunia teater modern. Seperti Sanggar Pasinaon Pelangi, Mojosongo, kelas akting Rumah Banjarsari dan Teater Manggala, Setabelan serta Sanggar Seni Kemasan, Kepatihan Solo.

Anak-anak yang mulai dekat dengan dunia teater tidak hanya sampai tingkat belajar dan berlatih. Mereka juga diberi ruang untuk menampilkan kemampuan di depan penonton. Setelah Sanggar Pasinaon Pelangi pada peringata Hari Teater Dunia di kawasan Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta(TBS) dengan lakon Bancakan, Sanggar Kemasan menyusul menggelar lakon Dalang dan Wayang di Teater Kecil Insitut Seni Indonesia(ISI) Solo, Sabtu malam lalu.

Meski masih sangat awam dengan dunia teater, namun tampaknya anak-anak itu mempunyai semangat yang besar untuk menampilkan aktingnya di panggung. Perilaku grogi, malu dan takut seakan sirna ketika sejumlah anak berada di panggung. Semuanya, sesuai peran masing-masing mampu membawakan perannya dengan menarik.

Dialog-dialog yang dibangun berjalan lancar tidak terkendala kemampuan akting mereka. Mengusung naskah berjudul Dalang dan Wayang karya Cucu S dan Koko Sondari, pementasan yang disutradarai Bambang Sugiarto itu memang sangat bagus. Naskah digarap dengan mengesplorasi perilaku anak-anak dalam kehidupan kesehariannya. Hadirnya idiom-idiom yang cukup kocak menghadirkan suasana segar dan mengundang aplus penonton.

Lakon Dalang dan Wayang, memang cukup menarik disimak. Menggunakan media seni pertunjukan tradisional wayang, lakon itu sarat dengan kritik sosial dan perilaku manusia. Itu digambarkan lewat sejumlah wayang (diperankan anak-anak) yang ada di dalam kotak, berontak ingin mencari kehidupan lain. Mereka tidak lagi percaya dengan dalang yang selama ini berperan sebagai bos atau penguasanya. Namun usaha wayang itu untuk hadir di dunia lain dengan mencari pemimpin baru, agaknya siasia. Setiap wayang ingin menjadi pemimpin dan berkuasa atas wayang lainnya. Akhirnya mereka sadar dan kembali membangunkan dalang untuk tampil menjadi pemimpin mereka. Maka, wayang-wayang itu kembali masuk kotak yang selama ini menjadi dunianya(Sri Wahjoedi- 20)

SMCETAK TERKINI